Oleh Al-Ustadz. Abdul Qadir Hasan Baraja’
(Kholifah/Amirul Mu’minin)
اللّهُ أكبر اللّهُ أكبر لا إلَهَ الا اللّه اللّهُ أكبر اللّهُ اكبرو لِلّه الحمدَ اللّهُ أكبر اللّهُ أكبر لا إلَهَ الا اللّه اللّهُ أكبر اللّهُ اكبرو لِلّه الحمدَ
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia dan dirahmati Allah
Alhamdulilah bahwa sampai saat ini, atas Rahmat dan Karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan hidup untuk Beribadah dengan segala fasilitas duniawi yang kita miliki. Tidak kurang-kurangnya kita bersyukur, atas segala Ni’mat yang tiada terhitung banyaknya itu demi kesejahteraan Jasmani dan Rohani kita, sebulan yang baru berlalu ibadah shaum Ramadhan telah kita tekuni, dimana kita semua telah berupaya maksimal tentunya, menurut kemampuan kita masing-masing untuk membersihkan diri lahir dan bathin dari segala dosa dan bentuk kema’siatan, kita telah sanggup menekan dan menahan keinginan nafsu serakah kita selama sebulan penuh.
Apakah upaya kita sedemikian yang sangat kita utamakan dan kita pentingkan itu, akan kita sia-siakan begitu saja berlalu tanpa kesan / tidak ada bekasnya pada peningkatan iman dan perluasan ketaqwaan kita untuk masa-masa berikutnya sejak hari ini, hari penuh suka cita 1 Syawal 1430 H.? Pertanyaan tersebut menjadi renungan kita demi masa depan yang gemilang dan mampu menghadapi berbagai ujian dan tantangan
للّهُ أكبر اللّهُ اكبرو لِلّه الحمدَ
Kaum Muslimin dan Muslimat yang saya hormati
Kehadirat Allah kita bermohon semoga dosa-dosa dan segala kelalaian, kekurangan diampuninya serta segala amal ibadah kita diterima disisinya.Amin. Kita pun hendaknya telah pula memaafkan kesalahan teman-teman kita dan handai tolan kita sejak bulan Ramadhan yang penuh berkah itu, sehingga pada hari ini kita benar-benar merasa lapang dan masing-masing berlapang dada terhadap sesama mu’min, agar dapat merasakan betapa Ni’matnya Persaudaraan, Ikatan Iman dikalangan kaum Muslimin yang terealisir dalam bentuk At-Ta’awun Alal Birri Wattaqwa sepanjang kehidupan. Allah SWT berfirman :
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara maka berilah ishlah diantara kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat Rahmat”. (QS. Al Hujraat : 10)
Bagaimanakah gambaran konkritnya Ukhuwwah berdasarkan Iman dalam ayat tersebut? Rasulullah SAW telah dengan jelas menggambarkannya dalam hadits beliau ;
Artinya “Dari Nu’man bin Ba’sir Ra. Berkata Rasul bersabda : kamu akan melihat orang-orang yang beriman dalam berkasih sayang dan berlemah lembut sesama mereka, bagaikan satu tubuh apabila satu bagian anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh bagian tubuh yang lainnyapun merasakan sakit sampai tidak bisa tidur dan merasa demam”. Demikian kuat dan kokohnya ikatan persaudaraan iman tersebut, masihkah dapat diminati oleh kaum muslimin hari ini sehingga dengan mudah dapat dipersatukan dalam satu jama’ah yang haq sebagaimana para pendahulu kita kaum Muhajirin dan Anshar demi menghindari perpecahan golongan yang hanya bangga dengan golongannya sendiri? sesungguhnya bersatu itu telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya sedangkan berpecah belah, bergolong-golongan, berpartai-partai, berfirqah-firqah itu telah diharamkan secara mutlaq.
Kaum muslimin dan Muslimat yang berbahagia !
Dapat kita bayangkan betapa besar Wibawa dan Kemuliaan kaum Muslimin, sekiranya mereka menyadari dengan sungguh-sungguh Kewajibanya Bersatu dan Keharamannya Berpecah Belah, sehingga tidak mudah diadu domba dan dipropokasi oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan Kesatuan dan Kejayaan Ummat Islam. Allah berfirman dalam Al Qur’an sebagaimana telah saya bacakan di pembukaan khuthbah :
Artinya :
“Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama (berjama’ah) dan janganlah kalian berpecah belah ingatlah ni’mat Allah atas kalian ketika kalian dahulunya saling bermusuhan lalu Allah menjinakan hati hati kalian, maka dengan nikmat-Nya itulah kalian menjadi bersaudara”.
Memperhatikan ayat tersebut, telah jelas bahwa dengan Beri’tishom Billah secara Berjamaah dan menghindari Tafarruq dikalangan kaum Muslimin, orang-orang yang Beriman akan merasa bersaudara sebagaimana dikehendaki ajaran. Sebaliknya jika Berjama’ah tidak terpenuhi dan Berpecah Belah / Tafarruq tidak dihindari maka tidaklah mengherankan persaudaraan orang-orang yang beriman tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan, bahkan dalam satu kampung sekalipun orang-orang yang beriman tidak akan merasa bersaudara, apalagi di wilayah yang berjauhan. Dewasa ini kita sering mendengar permusuhan suatu golongan kaum muslimin dengan golongan muslim lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan dimana sesama muslim masih tega bermusuhan dan saling membunuh, akibat perpecahan mereka dalam berbagai golongan dan kelompok. Maka haram hukumnya membawa Islam atas nama kelompok-kelompok atau golongan-golongan tertentu.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia
Sesungguhnya cara mempersatukan ummat Islam, adalah mudah, karena hal tersebut sudah dicontohkan dengan jelas oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat Anshar dan Muhajirin, lalu kemudian menjadi sukar karena suatu kepentingan duniawi dan ketidaktulusan beribadah. Sangat disayangkan sampai saat ini masih banyak ummat Islam yang hendak mempersatukan ummat Islam melalui cara-cara yang dibuat-buatmya sendiri tanpa mencontoh Assabiqunal Awwalun Minal Muhajrin wal Anshar yang telah diridhai Allah SWT. Sebagaimana firmannya : Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.(Qs. At Taubah: 100)
Kita sama-sama mengetahui, bahwa ummat Islam hanya hidup dibawah satu kepemimpinan Nabi Muhammad SAW selama beliau masih hidup, dan setelah beliau wafat pun ummat Islam tetap dibawah satu kepemimpinan di bawah seorang khalifah silih berganti. Kepemimpinan ummat Islam di bawah seorang Nabi disebut sistem An-Nubuwwah sedang dibawah seorang Khalifah disebut sistem Al Khilafah maka Khilafah merupakan sistem kepemimpinan global bagi keseluruhan ummat Islam dimanapun berada, karena Khilafah atau kekholifahan merupakan satu-satunya sistem yang haq bagi kepeminpinan ummat Islam sebagai pelanjut sistem An-Nubuwwah, sesuai sabda Rasulullah SAW “Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah”
للّهُ أكبر اللّهُ اكبرو لِلّه الحمدَ
Kaum Muslimin/Muslimat yang berbahagia !
Tentunya kita semua sangat merindukan kesatuan kaum Muslimin, karena memang demikianlah perintah Allah dan Rasul-Nya kepada seluruh ummat Islam maka alangkah baiknya setelah kita menyelesaikan shaum Ramadhan dengan jiwa yang bersih dan niat yang tulus, dapat bermanfaat untuk menekan nafsu kita, agar dapat memaksa diri untuk Bersatu menghindari Perpecahan demi mencapai Izzatul Islam wal Muslimin. Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia !
Marilah sejenak kita menoleh ke belakang, dimana perpecahan Ummat Islam telah menimbulkan peperangan diantara kaum Muslimin. Hal ini telah Tertulis dalam Al Qur’an :
Artinya :
“Dan jika ada dua golongan / kelompok atau thaifah dari orang-orang yang beriman saling berperang, maka damaikanlah antara kedua thaifah itu. Apabila salah satu thaifah itu melampaui batas (bughat) maka perangilah kelompok yang melampaui batas atau thaifah baghiyah itu sehingga dia kembali kepada perintah Allah “.
Ternyata ada dua Thaifah dikalangan kaum Muslimin yang berperang, yang satu disebut Thaifah Baghiyah yang akan melawan Thaifah yang haq atau Thaifah Manshurah sebagai lawannya.
Kaum Muslimin/Muslimat yang berbahagia
Setelah Khalifah Utsman bin Affan, maka Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah sebagai Khalifah yang ke IV. Akan tetapi seorang gubernur Syam (Irak) tidak bersedia mengakui Khalifah Ali RA sebagai Khalifah, karena disaat itu beliau belum memungkinkan untuk melaksanakan hukum qishas terhadap para pembunuh Khalifah Utsman. Berulang-ulang Khalifah Ali RA menyadarkan Mu’awwiyah agar berbai’at menyatakan Sam’an Wa Tha’tan terhadap Kekhalifahannya, namun Mu’awwiyah tetap membangkang, sehingga terpaksalah Khalifah Ali memerangi Thaifah Baghiyah tersebut, sesuai perintah Allah :
Dan sabda Rasulullah Saw : Artinya :
“Jika dua orang Khalifah dibai’at, maka Perangilah Khalifah yang datang kemudian.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia rahimakumullah
Kekhalifahan merupakan sistem kepemininan Islam sejak Rasulullah SAW. wafat, namun perkembangannya tidak selamanya mulus dan benar-benar sesuai dengan contoh kepemimpinan An Nubuwwah, kecuali hanya selama 30 tahun. Sejak khalifah Abu bakar As Shiddiq hingga khalifah Ali bin Abi Thalib.
Adapun Kekhalifahan selanjutnya sudah tidak konsisten lagi ‘Alaa Minhajin Nubuwwah walaupun tetap dalam sistem khilafah, namun prakteknya sudah menyimpang jauh, bahkan disebut oleh Rasulullah Saw sebagai Mulkan Adlon dan Mulkan Jabariyah atau sebagai Raja-raja Dzalim lagi curang, kejam dan menindas. Meskipun praktek Khalifah sudah sedemikian menyimpang membawa sistem khilafah, terdapat juga diantara para khalifah yang dalam kategori Mulkan Adlon itu seorang khalifah yang sangat terkenal adil dan bijaksana yang bernama khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 100 H. Khalifah Umar bin Abdul Aziz termasuk dalam kekhalifahan Bani Umayyah yang ke 8, dan berakhir pada kekhalifahan yang ke 14 di bawah khalifah Marwan bin Muhammad tahun 132 H. Kemudian diganti oleh khalifah-khalifah dari Bani Abbasyiah sampai tahun 656 H yang berpusat di Irak sebanyak 37 khalifah, lalu pindah ke Mesir sebanyak 18 khalifah dan setelah silih berganti sebanyak 55 orang sebagai khalifah dari Bani Abbasyiah, maka berakhirlah kekuasaannya pada tahun 923 H. Di bawah khalifah Al-Mutawakkil Alallah III. Kemudian kekhalifahan berpindah dari Bani Abbasyiah ke Bani Utsmaniyyah yang kekhalifahannya berakhir di Turki pada tahun 1342 H setelah 30 khalifah silih berganti dimana khalifah Abdul Majid II sebagai khalifah yang paling akhir di muka bumi ini, yang kita kenal dalam sejarah dengan runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani 1342 H/1924 M. Demikianlah sekilas kembang kempesnya sejarah perjalanan kekhalifahan Islam sebagai jama’ah yang sah bagi kehidupan bersama seluruh kaum Muslimin sebagai wadah Kesatuan kaum Muslimin se-dunia. Sangat disayangkan bahwa Wadah satu-satunya yang sah bagi kesatuan kaum muslimin tersebut, hilang dari permukaan tak pernah muncul kembali Kekhalifahan Kaum Muslimin (Khilafatul Muslimin) selama kurang lebih 80 tahunan. Alhamdulillah pada tahun 1418 H/1997 M. Khilafatul Muslimin telah dimaklumatkan kembali.
للّهُ أكبر اللّهُ اكبرو لِلّه الحمدَ
Kaum Muslimin/Muslimat yang berbahagia rahimakumullah
Sebenarnya Ulil Amri Minkum atau Kholifah kaum Muslimin di perintahkan oleh Allah dan Rosulnya untuk senantiasa di Taati oleh orang-orang yang beriman, walaupun seandainya seorang kholifah itu bertindak bagaikan mulkan Adlon dan mulkan zabariah, Dzolim dan kejam ataupun suka bermakshiyat. Rasulullah S.A.W bersabda:
Artinya: “Dari auf bid malik al -asy jai berkata: aku mendengar Rasullah bersabda : siapa yang berwali terhadap seorang wali lalu ia melihat { walinya } berbuat sesuatu kemaksiatan terhadap Allah S.W.T hendaklah dia membenci kemaksiatan nya kepada Allah akan tetapi jangan sampai melepaskan ketaatan terhadapnya”.(HR. Ahmad dan Muslim)
Perlu kita pahami bahwa wali yang dimaksudkan oleh Rosullah S.A.W. adalah kepemimpinan dalam sistem Islam bukan di luar sistim Islam atau Kepemimpinan Thoghut Tentunya Irasional dan mustahil Rosullah S.A.W. membicarakan ketaatan terhadap sistim kepemimpinan thoghut sebab bukan lagi Ulil Amri Minkum melainkan Ulil Amri Minhum.
Kaum Muslimin/Muslimat yang berbahagia rahimakumullah
Jika kita perhatikan kepemimpinan masyarakat dunia sekarang ini, maka kita akan mendapat tiga macam sistem kepemimpinam global yang terbesar. yaitu: dua dari non Islam dan satu dari Islam. 1.Sistem kapitalis dengan teori demokrasi liberalnya adalah non Islam 2. Sistem sosialis dengan teori komunismenya juga non Islam 3. Sistem kekholifahan Islam sebagai satu-satunya sistem yang hak dalam ajaran Islam dan kepemimpinannya di sebut kholifah/Amirul Mu’minin. Sedangkan kepemimpinan di luar sistem Islam di sebut Presiden, Perdana Menteri, Pangeran dll. Kiranya sudah tiba saatnya kita kembali hidup di bawah sistem kita sendiri untuk dapat menghindari diri dari perpecahan dan dapat memenuhi perintah Allah dan Rosul supaya orang-orang yang beriman Mentaati Ulil Amri Minkum, demi tegaknya hukum Allah dan Rosulnya di muka bumi ini, dalam rangka beribadah
Mungkin atau tak mungkin terwujudnya kesatuan dimaksud bukanlah persoalan kita, tetapi kita hanya memenuhi kewajiban berjama’ah berharap ridho Allah S.W.T. semata semoga apa-apa yang telah kita lakukan bernilai amal soleh kita di sisi Allah S.W.T. dan segala dosa, kekurangan, kelalaian kita di ampuninya, sehingga hidup kita di berkahi dan diridhoi Nya di dunia dan di akhirat. Amin.