Semakin maraknya perlawanan terhadap dominasi Barat terhadap dunia Islam, yang ditandai dengan munculnya berbagai perlawanan bersenjata, oleh para sosiolog selalu dikaitkan dengan Sayyid Quthb, yang dituding sebagai biang intelektual munculnya radikalisme dalam Islam. Tudingan ini bukan hanya dari pihak Barat, bahkan juga dari sebagian kaum muslimin. Lebih parah dari orang Barat yang kafir, bahkan kaum muslimin sampai mengatakan haram membaca buku tulisan Sayyid Quthb. Alasan yang biasa mereka gunakan, Sayyid adalah tokoh sesat yang akan menyesatkan ummat Islam. Dia ahli bid’ah yang harus disingkirkan dari komunitas ummat Islam.

Benarkah Sayyid Quthb sesat, sehingga layak untuk dipojokkan sedemikian rupa? Marilah kita lihat sekilah tentang kehidupan dan pemikiran sayyid Quthb.

Kehidupan Sayyid Quthb
Sayyid Qutb, lahir di daerah Asyuth, Mesir tahun 1906, di sebuah desa dengan tradisi agama yang kental. Dengan tradisi yang seperti itu, maka tak heran jika Qutb kecil menjadi seorang anak yang pandai dalam ilmu agama. Tak hanya itu, saat usianya masih belia, ia sudah hafal Qur’an. Bakat dan kepandaian menyerap ilmu yang besar itu tak disia-siakan terutama oleh kedua orang tua Qutb. Dengan segala keterbatasan bekal yang dimiliki, karena memang ia terlahir dalam keluarga sederhana, Qutb di kirim ke Halwan, sebuah daerah pinggiran ibukota Mesir, Cairo

Kesempatan yang diperolehnya untuk lebih berkembang di luar kota asal tak disia-siakan oleh Qutb. Semangat dan kemampuan belajar yang tinggi membuatnya berhasil masuk universitas Dar al Ulum, sekarang Universitas Cairo. Kala itu, tak sembarang orang bisa meraih pendidikan tinggi di tanah Mesir, dan Qutb beruntung menjadi salah satunya. Tentunya dengan kerja keras dan belajar. Tahun 1933, Qutb mendapat menyabet gelar Sarjana Pendidikan.

Tak lama setelah itu ia diterima bekerja sebagai pengawas pendidikan di Departemen Pendidikan Mesir. Selama bekerja, Qutb menunjukkan kualitas dan hasil yang luar biasa, sehingga ia dikirim ke Amerika untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.Qutb memanfaatkan betul waktunya ketika berada di Amerika, tak tanggung-tanggung ia menuntut ilmu di tiga perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu. Wilson’s Teacher’s College di Washington, Greeley College di Colorado, juga Stanford University di California.

Tak puas dengan yang didapatkannya, ia berkelana ke berbagai negara di Eropa. Italia, Inggris dan Swiss dan berbagai negara lain dikunjunginya. Tapi itupun tak menyiram dahaganya. Studi di banyak tempat yang dilakukannya memberi satu kesimpulan pada Sayyid Qutb, hukum dan ilmu Allah saja muaranya. Setelah lama mengembara, Sayyid Qutb kembali lagi ke asalnya. Ia merasa, bahwa Qur’an sudah sejak lama mampu menjawab semua pertanyaan yang ada.

Ia kembali ke Mesir dan bergabung dengan kelompok pergerakan Ihkawanul Muslimin. Di sanalah Sayyid Qutb benar-benar mengaktualisasikan dirinya. Dengan kapasitas dan ilmunya, tak lama namanya meroket dalam pergerakan itu. Tapi pada tahun 1951, pemerintahan Mesir mengeluarkan larangan dan pembubaran Ikhwanul Muslimin. Saat itu Sayyid Qutb menjabat sebagai anggota panitia pelaksana program dan ketua lembaga dakwah. Selain dikenal sebagai tokoh pergerakan , Qutb juga dikenal sebagai seorang penulis dan kritikus sastra. Banyak karyanya yang telah dibukukan. Ia menulis tentang banyak hal, mulai dari sastra, politik sampai keagamaan. Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 1954, Sayyid menjabat sebagai pemimpin redaksi harian Ikhwanul Muslimin. Tapi harian tersebut tak berumur lama, hanya dua bulan, karena dilarang beredar oleh pemerintah. Penyebabnya adalah sikap keras pemimpin redaksi, yakni Sayyid Qutb, yang mengkritik keras Presiden Mesir kala itu, Gamal Abdul Nasser.

Tepatnya 7 Juli 1954, Sayyid Qutb mengkritik perjanjian yang disepakati antara pemerintahan Mesir dan Inggris. Sejak itulah, kekejaman penguasa bertubi-tubi diterimanya. Setelah melalui proses yang panjang, Mei 1955, Sayyid Qutb ditahan dan dipenjara dengan alasan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Tiga bulan kemudian, hukuman yang lebih berat diterimanya, yakni harus bekerja paksa di kamp-kamp penampungan selama 15 tahun lamanya. Berpindah-pindah penjara, begitulah yang diterima Sayyid Qutb dari pemerintahnya kala itu. Meski berbagai kalangan dari dunia internasional telah mengecam Mesir atas hukuman tersebut, Mesir tetap saja bersikukuh seperti batu. Bahkan pada tanggal 29 Agustus 1969, Sayyid Quthb harus menghadapi algojo-algojo pembunuhnya.

Pemikiran Sayyid Quthb
Meskipun memiliki basic pendidikan agama yang baik, sebenarnya Sayyid Quthb pada mulanya tidak pernah terlibat dengan pemikiran keislaman secara mendalam. Dia mulanya seorang muslim yang lebih mengedepankan karir sebagai sastrawan dan pendidik, daripada sebagai juru da’wah. Perhatiannya terhadap Islam yang lebih intens justru muncul ketika Hassan Al-Banna dibunuh oleh penguasa Mesir.

Sejak saat itu pemikiran Sayyid Quthb mengalami perubahan yang sangat drastis. Pemikiran Sayyid Quthb yang paling mendasar adalah keyakinan tentang, universalitas dan kesempurnaan Islam sangat cocok bagi setiap orang tanpa memandang tempat dan waktu. Syariah menjadi sumber aturan kehidupan. Selain itu ia mengkritik keras peradaban barat, sebagai peradaban yang menghancurkan nilai kemanusiaan.
Islam, menurutnya bukanlah agama yang hanya mengajarkan ritual, tetapi merupakan system hidup. Dulu Rasulullah saw membentuk sebuah komunitas, yang diyakini bukan hanya komunitas agama, tapi juga komunitas politik. Di Madinah, beliau berhasil menyatukan komunitas sosial, yakni kaum pemukim dan kaum pendatang. Lebih dari itu, di Madinah, Nabi juga berhasil mengatur kehidupan kaum Muslim, Nasrani, serta Yahudi dalam komunitas ‘Negara Madinah’ dengan Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, Negara-negara kaum muslimin saat ini, dalam pandangannya, telah keluar dari negara Islam yang ideal. Menurutnya, banyak aspek yang berlaku di negara-negara Muslim atau negara dengan mayoritas Muslim, masih menganut sistem Barat yang tak sesuai dengan Islam. Negara-negara Muslim sekarang ini, kata Qutb, tak jauh berbeda dengan zaman jahiliyah masa lalu. Ia menyebutnya dengan istilah jahiliyah modern.

Menurut Sayyid Qutb, salah satu contoh bentuk sistem jahiliyah modern adalah sistem hakimiyah (penghakiman) yang tidak merujuk kepada hukum Allah SWT dan Rasul-Nya.

Perdebatan tentang sayyid Quthb
Meski sang tokoh pemikir Islam ini sudah meninggal, hasil pemikirannya yang tertuang dalam berbagai tulisan masih menjadi perdebatan umat Islam. Di sejumlah negara, buku-buku karangan Sayyid Qutb dilarang keras oleh pemerintah setempat. Contohnya, Kementerian Pendidikan Arab Saudi baru-baru ini memerintahkan untuk menarik buku-buku Sayyid Qutb dari perpustakaan-perpustakaan sekolah di Saudi, karena dinilai berisi ide-ide reformatif yang dapat memengaruhi pola pikir siswa.

Sikap serupa juga diperlihatkan oleh tokoh Ikhwanul Muslimin saat ini, salah satunya adalah Yusuf al-Qaradawi. Al-Qaradawi mengkritik Qutb tentang penilaian kejahiliyahan modern yang dilontarkannya. Menurut al-Qaradawi, ketidakidealan yang ditemukan dalam masyarakat Islam kontemporer ataupun dalam sejarah tidak tepat jika disamakan dengan jahiliyah Makkah ketika pertama kali dakwah Islam muncul. ”Jika kita mesti menggunakan terminologi jahiliyah, maka jahiliyahnya bukan jahilyah total tetapi parsial. Masih ada yang hidup dari ajaran Islam dalam tubuh umat ini,” jelas al-Qaradawi. Lebih lanjut al-Qaradlawi bahkan menilai pemikiran Quthb bukanlah pemikiran Ikhwan, dan Ikhwan bukanlah Quthb.

Adil kepada Sayyid Quthb
Bagaimana pun Sayyid Quthb telah mengakhiri hidupnya sebagai orang yang mendakwahkan Islam. Kematian Quthb bukan karena kejahatan apapun, melainkan karena menyampaikan kritik terhadap system kenegaraan, bahwa Negara yang ada tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Memang sayyid Quthb bukanlah manusia yang maksum, bebas dari dosa. Sayyid Quthb tentu memiliki banyak kekurangan dibalik berbagai kelebihan yang dimilikinya. Maka semestinya tokoh ini dipandang dengan adil. Apa yang baik dan benar, janganlah ditolak karena ada kekurangan pada diri Sayyid.

Pada umumnya tokoh kaum muslimin mengalami kesalahan terhadap pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh sayyid Quthb. Tentang kejahiliyahan misalnya, dengan istilah kejahiliyahan abad dua puluh, bukan berarti Sayyid Quthb mengatakan bahwa saat ini telah terjadi kejahiliyahan total. Bagaimana pun Sayyid Quthb mengatakan Islam masih ada dan masih eksis, tetapi tidak dilaksanakan oleh para pemerintah dengan konsekuen. Dan di sini Sayyid Quthb tidak melempar takfir, tetapi lebih tepat kalau melemparkan sifat. Takfir bish-shifat seperti ini bukanlah takfir mu’ayyan yang dilarang. Jika memang dalilnya jelas, dan memang demikian tentu tidak ada larangan untuk itu.
Hal lain yang harus dijelaskan, bahwa Sayyid Quthb adalah seorang satrawan dan seorang jurnalis. Ungkapan-ungkapan yang ditulisnya kadang-kadang tidak bermakna dhahir sebagaimana tulisannya. Satu contoh ketika beliau mengatakan Allah adalah “arsitek alam semesta”, tentu di sini bukan berarti dia berkeyakinan bahwa Allah sama dengan arsitek-arsitek manusia.

Memang, ada pendapat sayid yang tidak bias diterima dan tidak bias ditafsirkan dengan apapun sehingga bias diterima. Di antaranya adalah pernyataan bahwa hadis ahad tidak bias menjadi dasar dalam persoalah aqidah. Pernyataan ini setidaknya bias difahami karena Sayyid hidup di Mesir yang kental dengan pemikiran Abduh. Meskipun banyak berbeda dengan Abduh, setidaknya dalam masalah ini kemungkinan Sayyid Quthb terpengaruh oleh Abduh. Dan jika pandangan ini harus ditolak, tentu bukan berarti semua karyanya harus ditolak. Sikap adil kepada Sayyid Quthb harus diwujudkan dengan sikap kritis positif, lalu memilah yang benar dan salah, dan dengan jujur mengakui plus minus, mengambil sisi positif dan meninggalkan sisi negatif. Allahu a’lam bish-shawab