Sheikh Abdullah Saeed
Penanggung jawab Urusan Militer Organisasi Al Qaidah di Afghanistan
Segala puji milik Allah yang telah melimpahkan kemenangan atas hambaNya yang sholeh Muhammad saw, memuliakan tentaranya, dan mengalahkan balatentara ahzab (persekutuan). Sholawat dan salam semoga selalu tercurah atas Muhammad saw, hamba dan rasulNya, juga atas segenap keluarga dan shahabat Beliau.
Wa ba’d.
Siapa saja yang mencermati dinamika Jihad di Afghanistan akan dapat menyaksikan dengan jelas semburat cerah fajar kemenangan merekah di ufuk langit. Sungguh setiap mata yang menyaksikan dapat melihatnya dengan jelas. Juga dapat disaksikan oleh semua orang, kekalahan dan kehancuran, baik fisik maupun moral atas balatentara ahzab, yang dipimpin Amerika, NATO, dan tentara rejim boneka Afghan.
Hari demi hari, dukungan rakyat semakin mengalir memperkokoh Taliban, sementara pada saat yang sama, kemarahan dan kebencian terhadap Amerika dan NATO telah mencapai puncaknya, khususnya setelah terjadinya berulang kali pemboman tanpa pandang bulu yang melukai bahkan membunuh puluhan hingga ratusan rakyat sipil muslim, laki-laki, wanita, anak-anak. Ditambah lagi berbagai tindak kekerasan, penyiksaan, penangkapan, dan penghinaan terhadap rakyat hanya karena alasan sepele serta dibuat-buat, serta kecurigaan bahwa mereka mendukung dan membantu Taliban.
Bahkan di ibukota Kabul, yang selama ini diklaim sebagai representasi dukungan rakyat Afghan terhadap rejim boneka, kini gelombang kebencian dan kemarahan rakyat begitu nyata. Setiap sudut kota menampakkan tanpa takut lagi, kebencian dan kemarahan terhadap Amerika, NATO, dan rejim murtad Afghan.
Rakyat semakin sadar, bahwa rejim murtad ini tidak mampu melindungi mereka dari penindasan penjajah Amerika, rejim boneka ini tidak mampu melindungi mereka dari tindak barbarik, berulang kali, pemboman yang sangat terarah dan berpresisi yang dilancarkan secara sengaja oleh angkatan udara Amerika, pemboman membabi buta yang memburu setiap rakyat Afghan di pelosok kota mereka, kampung mereka. Dan Karzai tidak mampu berbuat apapun untuk melindungi rakyatnya, bahkan ia tidak mampu memerintah melampaui jarak satu lemparan batu dari istananya di Kabul. Kesadaran rakyat semakin terbuka, bahwa satu-satunya jalan yang dapat mereka harapkan untuk melindungi mereka dari kekejaman dan kebiadaban penjajah salib adalah mendukung dan membantu orang-orang yang terbukti sebelumnya: yaitu orang-orang yang jujur, penuh sayang dan cinta kepada mu’min, penuh disiplin, para pejuang yang teguh dan sholeh – Mujahidin Imarah Islam Afghanistan. Khususnya setelah rakyat menyaksikan bagaimana kebangkitan kembali Mujahidin di Bumi Afghanistan, kuat dan teguhnya mereka, sehingga mereka mampu merebut kota demi kota dan menegakkan keadilan dan keamanan di tempat yang mereka kuasai. Sudah menjadi fitrah insani, bahwa manusia mencintai keadilan yang kuat dan kokoh. Kuat dan adil, inilah dua karakteristik dari Syariah Islam, dan inilah juga karakteristik umum dari Taliban, walhamdulillah, karena Taliban dengan perkenan Allah adalah pihak yang paling konsisten mengawal Syariat Allah di Bumi Afghan.
Terkait operasi militer yang dilancarkan Taliban, seperti penyergapan, IED, ranjau dan bom, serta amaliyat istisyadiyah (operasi syahid), kami menyaksikan peningkatan substansial dalam kuantitas dan kualitas di banyak daerah di seluruh pelosok Afghanistan. Khususnya yang akhir-akhir ini, kami menyaksikan Taliban mampu meluaskan operasi militernya hingga ke wilayah utara (basis Taliban umumnya di wilayah selatan Afganistan. Pent), seperti Qunduuz, dan lainnya. Dalam operasi militer mereka yang terbaru di wilayah Badghis, Mujahidin Taliban berhasil menghancurkan 30 kendaraan lapis baja, merebut 25 lainnya sebagai rampasan perang, membunuh 40 tentara murtaddin, dan menangkap 20 lainnya. Tak kalah penting, tentara Imarah Islam Afghanistan semakin menerapkan taktik perang yang berani dan hebat, khususnya dalam operasi penyergapan dan amaliyah istisyad. Rakyat semakin mendukung Taliban; bahkan mereka yang dahulu sekedar menyediakan tempat perlindungan bagi Mujahidin, kini mereka telah bergabung dan menjadi pejuang yang aktif melancarkan berbagai amaliyat di wilayah mereka. Laporan resmi dari komandan lapangan Mujahidin Imarah Islam menyatakan:
Hari demi hari, situasi semakin baik dan kondusif. Mereka yang hari ini merencanakan dan melaksanakan amaliyat militer adalah mereka yang kemarin memberikan kami perlindungan. Rakyat umum menolong dan mendukung Mujahidin dan tidak bakhil menawarkan pertolongan mereka. Rakyat tidak lagi merasa takut seperti sebelumnya. Ini semua terjadi, dengan ijin Allah, setelah Taliban semakin kokoh dan memperluas kekuasaannya.
Berbagai tipe operasi yang dilakukan Taliban adalah yang terbaik yang pernah mereka lakukan semenjak tujuh tahun terakhir, dan mereka terus menyempurnakannya, segala puji bagi Allah. Kami sendiri telah menyertai mereka, dan menyaksikan langsung, bahu membahu dengan mereka di medan Jihad. Tetapi musuh telah menyaksikan kenyataan ini dengan mengalaminya dan merasakan langsung. Utusan PBB untuk Afghanistan, Kai Eide, mengakui terjadinya peningkatan serangan Taliban, dan bahwa pasukan NATO mengalami serangan paling mematikan semenjak enam tahun sebelumnya.
Pada bulan Juli dan Agustus (2008), kami menyaksikan berbagai insiden keamanan yang belum pernah kami saksikan semenjak 2002. Kini kami menyaksikan peningkatan lebih hebat lagi.
Dalam pernyataannya ini, ia secara implisit mengatakan bahwa ofensif Taliban tidak akan berkurang menghadapi musim dingin mendatang.
Kami rasa musim dingin mendatang kami harus bersiap menghadapi gelombang serangan yang lebih hebat daripada musim dingin tahun lalu.
Eide menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB di New York, bahwa mulai saat ini pasukan ‘teroris’ akan melancarkan aktifitas militernya keluar jauh dari daerah basis mereka di Barat dan Selatan.
Di sisi lain, kelemahan mulai menggerogoti Amerika dan para sekutunya serta kekuatan bonekanya. Gerakan mereka dari satu kota ke kota lain semakin terbatas, dan mereka tidak lagi menampakkan kehadiran yang mencolok di daerah-daerah yang sebelumnya mereka kuasai. Amerika kini memilih untuk meringkuk berlindung di Kabul, menumpuk lebih banyak dan lebih banyak lagi tentaranya di sana. Sementara Mujahidin hari demi hari bergerak mendekati Kabul, khususnya dari arah Wardak. Amerika telah menyaksikan keteguhan, kekuatan, dan ketabahan tentara Imarah Islam dalam bertempur. Amerika juga telah menyaksikan meningkatnya jumlah Mujahidin. Propaganda mereka bahwa mereka akan dapat mengalahkan teroris dalam satu operasi militer terbatas dan dalam waktu singkat, rasanya semakin jauh dari kenyataan.
Situasi keamanan atas rakyat Afghan secara perlahan meningkat, sementara potensi bahaya yang dihadapi pasukan penjajah salib tidak hanya terbatas dari Taliban; kini rakyat umum mulai ikut berjuang bahu membahu bersama Taliban. Simpati yang semakin kental mendorong rakyat makin berani mendukung Taliban, bersama sebab yang lain, yaitu makin meningkatnya kesadaran rakyat untuk menunaikan faridlah Jihad fi Sabilillah sebagai kewajiban agama yang harus dilaksanakan setiap Muslim Afghanistan.
Moral Mujahidin terus meningkat, segala puji bagi Allah. Di sisi lain kami menyaksikan hancurnya moral tentara NATO dan menurunnya semangat mereka untuk bertahan melanjutkan perang jangka panjang ini, khususnya setelah berlalu tujuh tahun, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka tidak memperoleh kemajuan apapun ataupun secara cepat mengakhiri perlawanan Taliban. Mereka tidak juga mampu mematahkan Taliban, pun juga tidak mampu menangkap para pimpinan dan komandan Mujahidin, padahal dua hal itulah yang menjadi motivasi awal mereka melancarkan serangan terhadap Bumi Afghan. Atas alasan ini, moral mereka telah patah, dan mereka tidak memiliki motivasi yang cukup untuk meyakinkan mereka meneruskan perang mereka yang kalah, membayar hari demi hari dengan kekalahan dan kematian. Para tentara salib yang malang itu harus merasakan kepedihan hari demi hari, tenggelam dalam lautan api yang mendidih, sementara para politisi dan pemimpin mereka dengan bangga, sombong, dan penuh dusta terus menebarkan propaganda kosong bahwa mereka memperoleh kemenangan dalam berbagai pertempuran atas Taliban. (Kalau baca iklan berita berjalan di Metro TV atau TV One, kita jadi tersenyum dengan kabar hari ini sekian ribu Taliban mati, hari ini sekian ratus Taliban mati, dst. Pent).
Taliban telah bertekad untuk membenamkan kekuatan Amerika dan menendang mereka semua keluar dari Afghanistan. Motivasi dan tujuan mereka dalam berjuang semakin kuat, yaitu menentang dan mengusir penjajah kafir dan antek-anteknya, berjuang untuk menegakkan kembali Imarah Islam (yang insya Allah menjadi salah satu batu pijakan dari sekian banyak batu pijakan yang disiapkan, untuk sekali lagi menegakkan Khilafah di atas Manhaj Kenabian. Pent). Seperti tercermin dalam khutbah resmi Idul Fitri yang disampaikan oleh Amirul Mu’minin Mullah Muhammad Umar Mujahid:
Tentara penjajah salib datang ke negeri kami dengan ambisi untuk memusnahkan Mujahidin, menangkap atau membungkam para pimpinan Jihad, mengokohkan basis mereka di Asia, menguasai berbagai sumber daya yang ada, dan menyebarkan agama palsu. Tetapi setelah lewat tujuh tahun, mereka tidak juga dapat meraih ambisinya, dan mereka tetap tidak akan dapat meraih ambisinya untuk seratus tahun mendatang.
Beliau menambahkan:
Perlawanan rakyat kini menjadi kenyataan, dan semakin hari semakin luas. Ini adalah kenyataan yang telah berkali-kali diakui para analis.
Beliau melanjutkan:
Kami tegaskan pada kalian para penjajah: Pada saat kalian datang, kalian merasa bangga dengan kekuatan dan kehebatan teknologi kalian. Dengan tiba-tiba kalian menyerang negeri kami tanpa alasan jelas. Kini di tengah kenyataan pahit yang kalian hadapi, kalian harus mengkoreksi keputusan kalian menjajah negeri kami, dan segeralah cari jalan selamat untuk menarik mundur pasukan kalian.
Inilah pendirian sikap dari Amirul Mu’minin, pemimpin Imarah Islam. Sementara kita menyaksikan Amerika dan NATO dengan putus asa mendorong rejim boneka untuk menawarkan berbagai proposal damai kepada Taliban, bahkan proposal berbagi kekuasaan. Lebih jauh, mereka menawarkan opsi amnesty atau pengampunan kepada para pimpinan Taliban, termasuk kepada Mullah Muhammad Umar Mujahid, semoga Allah sentiasa melindungi Beliau.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika mengumumkan bahwa Amerika berkeinginan untuk membuka negosiasi dengan para pimpinan Taliban yang menginginkan kompromi, mengakui kesalahan, dan menghormati Konstitusi Afghan.
Salah satu tujuan penting yang menjadi fokus David Patreus adalah membuka kompromi dengan elemen-elemen moderat Taliban, sebagaimana ia katakan:
Saya sungguh menyadari, kita harus membuka pembicaraan dengan musuh. Kita harus berusaha membuka rekonsiliasi dengan sebanyak mungkin tokoh kunci, dan kita harus melakukannya dengan koordinasi menyeluruh, dengan dukungan penuh Pemerintah Afghan, dan Presiden Hamid Karzai.
Strategi baru Amerika ini adalah cerminan bahwa strategi militer yang diterapkan Amerika dan NATO saat ini tidak membuahkan hasil, dan menggunakan pendekatan militer massif malah membawa hasil yang berlawanan dengan yang mereka inginkan.
Kini mereka merencanakan konspirasi, tanpa malu mereka mencoba bernegosiasi dengan apa yang mereka namakan “elemen moderat” dalam Taliban. Tujuan pertama dari rumor ini adalah untuk mengguncangkan kepercayaan dan loyalitas terhadap para qiyadah (pimpinan) Mujahidin, berusaha memecah belah Taliban, dan menebarkan benih perselisihan dalam barisan Taliban. Tetapi ini semua menjadi plot yang terbongkar dan gagal, dan seluruh elemen Taliban menolak berbagai ide atau usulan negosiasi dengan rejim Karzai. Deputi Amirul Mu’minin, Mullah Baradir, hafidzahullah, menyatakan bahwa ide negosiasi ini tidak ada dasarnya sama sekali, dan tidak ada satupun yang berhak mewakili Taliban dan berbicara atas nama Taliban kecuali para pemimpin yang telah diketahui dan telah diberi kewenangan khusus secara langsung. Mullah Baradir juga menyatakan dalam pembicaraan melalui telepon dengan Reuters, “Kami menolak tawaran negosiasi oleh pemerintah boneka Afghan dan presiden budak kafir Hamid Karzai”.
Mullah Baradir menyatakan bahwa Karzai tidak punya hak untuk bernegosiasi, “(karena) dia hanya berbicara dan bertindak atas arahan dan perintah Amerika”. Dengan penolakan ini, Mullah Baradir menggagalkan plot dan rencana siapa saja yang menginginkan mengambil keuntungan pribadi dan mengambil peran yang diarahkan musuh. Mereka yang digembar-gemborkan media sebagai perwakilan Taliban dan telah bernegosiasi, sesungguhnya bukanlah utusan resmi Taliban; kenyataannya mereka hanyalah mewakili dirinya sendiri, meskipun mungkin dahulu mereka pernah menjadi anggota gerakan Taliban.
Penolakan ini ditegaskan kembali dalam berbagai pernyataan resmi yang lain yang diterbitkan Imarah Islam Afghanistan:
Berbagai berita yang disebarkan media bahwa negosiasi tengah dilakukan antara Imarah Islam Afghanistan dan kekuatan lawan, dengan mediasi Kerajaan Saudi Arabia, tidak memiliki dasar sama sekali. Majlis Syura Imarah Islam menegaskan bahwa isyu ini adalah usaha yang gagal dari musuh untuk menciptakan kekhawatiran dan ketidakpercayaan antar Mujahidin dan rakyat Afghan, juga rakyat seluruh dunia.
Tidak ada satupun pejabat resmi Imarah Islam yang mengambil bagian dalam proses negosiasi dengan Amerika dan rejim bonekanya (di Kabul).
Oknum-oknum yang diklaim sebagai mantan pejabat Imarah Islam sebelumnya yang jumlah mereka dapat dihitung dengan satu jari, yang di antara mereka mungkin tengah dipenjara di Kabul atau yang lainnya telah menyerah, tidak lagi merepresentasikan Imarah Islam.
Jika seandainya perjuangan kami ini semata demi mendapat kursi atau jabatan menteri, kami tentu akan menerimanya sejak awal dulu ketika kami berkuasa, dan kami tentu akan tetap berkuasa hingga kini. (Maksudnya, jika perjuangan Taliban semata untuk tawar menawar kursi dan jabatan, buat apa mereka bersusah payah berjuang menentang Amerika, dan tentu juga Amerika tidak akan memerangi dan berusaha menggulingkan mereka. Pent).
Negosiasi yang memang menguntungkan Islam dan Afghanistan tentu tak akan diadakan secara rahasia dan tertutup dari rakyat banyak. Berbagai media yang menyebarkan berita tak berdasar ini, telah bersikap tidak netral dan independen. Jihad kami akan terus berlanjut, dengan ijin Allah, hingga seluruh kekuatan kafir diusir dari Bumi Islam dan pemerintahan Islam yang merdeka berdiri.
Sheikh Muhammad Yasir, fakkallahu asrahu (semoga Allah membebaskan Beliau dari penjara), berkata dalam sebuah kesempatan wawancara dengan As Sahab:
Saya rasa tidak ada satupun yang perlu kami negosiasikan. Setengah usulan solusi yang ditawarkan ditolak oleh Amirul Mu’minin, sejauh yang kami tahu tentang Beliau dan yang telah Beliau jelaskan, juga itu menjadi pendirian dari para pejuang Taliban yang saat ini bertempur. Taliban tidak menerima tawaran ini ketika dulu mereka berkuasa, bagaimana bisa mereka menerimanya sekarang? Persoalan ini sengaja dihembuskan oleh media untuk menyebarkan perselisihan dalam barisan Mujahidin. Salah seorang anggota parlemen di Kabul mengatakan, “Kami tengah berdiskusi dengan Taliban, supaya kekuatan Taliban terpecah dua. Yang pertama adalah mereka yang moderat, dan yang lainnya ekstrem. Targetnya adalah kedua grup ini nanti akan saling berselisih dan persatuannya terpecah”.
Tetapi, saya ingin menenangkan setiap orang, selama Mullah Muhammad Umar masih hidup, jangan khawatir terhadap situasi Taliban., karena Beliau adalah pribadi yang teguh. Beliau telah menolak opsi ini semenjak awalnya dan telah mengorbankan ribuan syuhada demi memegang prinsip. Bagaimana bisa Beliau kemudian menerima tawaran remeh ini sekarang?
Tidak ada yang harus didiskusikan dengan pemerintah Kabul, hingga seluruh kekuatan penjajah kafir diusir keluar dari Afghanistan, hingga Syariat Islam kembali memerintah Afghanistan. Inilah tujuan dan motivasi kami, yang telah membuat kami mengorbankan darah dan nyawa selama lebih dari tiga puluh lima tahun peperangan.
Ahmad Muwwafaq Zaidan berkata:
Sumber Barat dan Amerika berkata bahwa mereka siap menerima Taliban dalam proses politik mendatang di Afghanistan jika Taliban mau menolak Al Qaidah. Tetapi mereka seperti berpura-pura lupa, bahwa Mullah Muhammad Umar ‘kehilangan’ kekuasaannya karena ia menolak menyerahkan hanya satu orang kepada kafir Amerika, yaitu (Amir dan Qaid – pimpinan dan komandan Mujahidin) Sheikh Usamah bin Ladin. Ketika Beliau berkuasa dahulu dan tengah menghadapi gelombang hebat penyerbuan Amerika, Beliau telah menolaknya. Apakah mungkin Beliau menerimanya sekarang, pada saat Beliau berada dalam posisi mengungguli lawan-lawannya?
Yang kedua, saat ini Taliban berada dalam posisi lebih kuat dan kokoh dibanding sebelumnya. Mereka memegang kontrol pengaruh di wilayah, satu kesatuan dengan mereka adalah Taliban Pakistan, Al Qaidah, dan mungkin juga telah menyebar hingga Asia Tengah dan Turkistan Timur (Cina, Uighur, Xinjiang). Bahkan bisa jadi pengaruhnya sampai ke wilayah Iran, ditandakan dengan munculnya kekuatan militant sunni di Iran bernama Jundullah Iran. Seluruh fakta ini menandakan bahwa mereka menempati posisi tawar yang lebih tinggi daripada Amerika. Tetapi tentu hari ini dan selanjutnnya tidak ada tawar menawar mengenai masa depan Afghanistan, juga bisa jadi wilayah-wilayah tetangga di kawasan ini.
Ia melanjutkan:
Tentu yang menjadi pertanyaan besar di sini adalah: apa yang menyebabkan Washington mengkoreksi kebijakannya terhadap Taliban? Agaknya ada beberapa alasan mengenai hal ini.
1. Semakin kokohnya kekuatan Taliban sehingga saat ini mengancam otoritas Hamid Karzai. Beberapa hari lalu ratusan pejuang Taliban menyerang ibukota Helmand, Lashkar Gah, dan hampir berhasil merebutnya. Peristiwa itu membuat seorang komandan Inggris di wilayah itu berkata bahwa wilayah Helmand terlalu besar untuk diatur di bawah kontrol tentara Inggris. Operasi militer Taliban terus meningkat, dan mereka tengah mendekati Kabul. Belum lagi akibat serangan bom udara yang dilancarkan Amerika di wilayah-wilayah Pashtun yang mengakibatkan terbunuhnya puluhan ribu rakyat sipil, telah mengakibatkan meningkatnya dukungan kepada Taliban. Keluarga rakyat yang terbunuh bergabung menjadi tentara baru Taliban.
2. Meningkatnya pengaruh Rusia sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan di kawasan itu, khususnya setelah insiden di Georgia. Rusia kemudian mengancam untuk tidak membiarkan bantuan NATO di Afghanistan. Ancaman ini sedikit banyak mempengaruhi keputusan negara-negara di Asia Tengah lainnya untuk bekerja sama dengan Washington demi memerangi ‘terorisme’, juga keputusan mereka untuk menyediakan dukungan logistik kepada tentara NATO di Afghanistan.
3. Krisis ekonomi yang mengguncang Amerika dan negara-negara barat, telah melemahkan pengaruh mereka di dunia internasional, juga telah melemahkan kekuatan militernya. Amerika bahkan tidak mampu menyediakan dana untuk membiayai 2500 tentaranya yang akan dikirim ke Afghanistan. Faktor ini ikut mengancam keberlangsungan tentara Amerika di kawasan ini. Biasanya, tidak ada pohon besar yang jatuh tumbang, kecuali pasti ikut mengguncangkan juga tanah di bawahnya, kejatuhannya akan ikut mempengaruhi pohon-pohon kecil di sekitarnya. Tidak ada empirium besar yang tumbang secara militer, financial, etik, maupun moral, melainkan pasti negeri-negeri ‘satelitnya’ juga akan ikut tumbang.
Perubahan kebijakan ini adalah satu tanda indikasi kekalahan mereka di hadapan Mujahidin.
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Abdul Bari Atwan berjudul Taliban Semakin Mendekati Kemenangan, ia menyatakan:
Perubahan kebijakan barat terhadap Taliban disebabkan berbagai faktor, yang dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Kerugian besar, baik fisik maupun financial, yang diderita barat akibat ofensif militer yang dilancarkan pejuang Taliban dengan didukung Al Qaidah.
2. Pakistan yang hampir gagal total, menjadi ‘negara yang bankrut’, tidak mampu lagi mengontrol wilayah dan batas negerinya. Waziristan, kawasan di perbatasan Pakistan dan Afghanistan dengan luas sekitar 30000 km2, telah berproses menjadi wilayah ‘daulah Islam’ independen, sementara Taliban Afghanistan telah menguasai 2/3 wilayah Afghanistan.
3. Operasi militer Amerika di wilayah Pakistan (tanpa sepengetahuan rejim Pakistan) dengan tujuan menyerang berbagai kepentingan Al Qaidah dan kekuatan Taliban Pakistan (Tanzhim Tehrik e Taleban di bawah pimpinan Mullah Baitullah Mehsud, pent) telah membuat malu pemerintah Pakistan, dan semakin membuka di hadapan publik bahwa pemerintah Pakistan tidak lebih dari budak boneka Amerika.
4. Pemerintah Karzai telah gagal mengontrol Afghanistan, juga telah gagal meraih simpati rakyat. Pemerintah ini kini terkepung di satu tempat saja di Kabul. Mereka tidak mampu menahan laju gerak maju Taliban menuju ibukota Kabul. Kondisi semakin diperburuk dengan terkuaknya berbagai korupsi dan kebusukan rejim penguasa. Puncaknya adalah peristiwa tertangkapnya salah seorang kakak presiden sendiri, Ahmad Wali Karzai, dalam kasus perdagangan obat bius.
5. Al Qaidah telah bangkit, dan kembali ke Afghanistan dengan keadaan yang lebih kuat dari sebelum 9 September 2001. Kini mereka menempatkan basisnya di wilayah perlindungan yang aman di sekitar garis perbatasan (kawasan Waziristan) di belahan utara dan Helmand di selatan. Kini mereka mampu mengkonsolidasikan basisnya dan melatih lebih banyak kader Mujahidin. Al Qaidah juga mendapat dukungan dari seluruh sayap/faksi Taliban, bahkan dari mereka yang dahulu pernah mengusulkan agar Bin Ladin diserahkan kepada Amerika atau Arab Saudi supaya Taliban tetap berkuasa.
6. Al Qaidah ikut melatih dan menerapkan berbagai strategi yang mereka dapatkan berdasarkan pengalaman jihad di Iraq, dalam membantu Taliban di Afghanistan atau Pakistan, seperti taktik bom ranjau IED, dan taktik amaliyat istisyadiyah. Taktik militer tersebut belum pernah ada sebelumnya di Afghanistan sebelum 9/11. Berdasarkan analisis fakta lapangan, Al Qaidah telah meluncurkan setidaknya 700 serangan istisyad di Iraq, dan 30 serangan istisyad di Pakistan sejak permulaan tahun ini (2009).
7. Kembalinya Al Qaidah ke Afghanistan dan Pakistan telah membawa ‘nuansa baru’, yaitu meningkatnya ancaman serius terhadap kepentingan Amerika dan Eropa khususnya. Hampir semua operasi yang dilancarkan Al Qaidah terhadap Eropa atau Amerika direncanakan di Afghanistan (penyerangan twin tower WTC, kapal induk USS Cole di Teluk Aden Yaman, kedutaan Amerika di Nairobi dan Darus Salam, amaliyat Bali Indonesia, dan sinagog yahudi di Djerba Tunisia). Al Qaidah tidak dapat melancarkan operasinya di barat dari Iraq.
8. Afghanistan adalah pusat Asia, ada tujuh negara yang berbatasan dengannya. Kondisi ini menyulitkan untuk mengepung Afghanistan, tidak seperti Iraq yang berbatasan dengan negara musuh yang bekerjasama dengan Amerika beserta sekutunya. Seluruh negara yang berbatasan dengan Iraq, kecuali Syria, telah menutup perbatasannya demi mencegah lalulintas Mujahidin, sehingga ribuan kaum Islamiyyun terpaksa bergabung dengan tanzhim Al Qaidah di Maghrib Islami, Yaman, dan Turki. Orang-orang ini kemudian pulang ke negerinya, mungkin juga Eropa atau Amerika, dengan membawa nuansa baru, berupa pengalaman Jihad, ilmu dari pelatihan militer, dan pendidikan agama.
Segala puji bagi Allah, Mujahidin berada dalam posisi di atas angin, mereka terus mengobarkan perang gerilya yang lebih terorganisasi terhadap Amerika dan NATO,yang belum pernah ada sebelumnya. Telah kita ketahui, taktik perang ini mampu merontokkan moral pasukan paling terorganisasi sekalipun, melemahkan dan menggerogotinya dari waktu ke waktu, meski Amerika dan NATO bersatu padu. NATO tidak mengetahui dari mana asal Mujahidin, di mana serangan akan dilancarkan, di mana Mujahidin bersembunyi, dll. Hal ini menyebabkan mereka terus menerus mengalami ketakutan dan kekhawatiran, sehingga membuat mereka terkena tekanan mental berat. Kasus bunuh diri dan depresi semakin sering kita dengar. Akibat yang lebih ringan adalah penurunan moral, gugup, paranoia kronis akibat serangan-serangan tiba-tiba yang dilancarkan Taliban terhadap konvoi, basis militer, dan tempat tinggal mereka. Mereka menggigil cemas menanti kematian setiap saat. Mereka tidak lagi merasa aman, apakah itu di dalam benteng pertahanan yang paling kokoh seperti di Bagram, apalagi di jalan-jalan. Setiap tentara mereka sangat-sangat mendambakan dapat pulang ke negerinya, untuk menyelamatkan dirinya dari takut yang berkepanjangan tanpa henti siang dan malam.
Jika kita mempelajari statistik yang mereka sebutkan tentang berbagai kasus gangguan psikologi, kita mendapatkan fakta bahwa mayoritas tentara Amerika dan NATO menderita akibat kehancuran mental. Hanya sedikit yang bukan diakibatkan oleh hal itu. Dan gangguan mental ini juga melanda mereka yang tidak secara langsung terjun di medan perang. Angka kasus bunuh diri di kalangan tentara Amerika, Inggris, dan Kanada mencapai level yang tertinggi saat ini. Koran berita London, Times, mengekspos dalam sebuah survey tertutup bahwa ratusan tentaranya yang pulang dari Afghanistan dan Iraq telah menderita kehilangan fungsi pendengaran akut akibat mengalami kejutan ledakan suara keras setiap hari di medan pertempuran.
Radio Canada, sebuah stasiun televisi umum mengekspos bahwa angka bunuh diri di kemiliteran Kanada telah meningkat di tahun-tahun belakangan ini, dan di tahun 2007, mencapai angka tertinggi selama sepuluh tahun.
Begitu pula yang melanda tentara Amerika. Berdasarkan laporan Pentagon, angka bunuh diri di kalangan militer tertinggi terjadi pada tahun 2006, angka paling tinggi kasus bunuh diri selama 25 tahun. Masih menurut Pentagon, pada tahun 2006 terjadi 102 kasus bunuh diri, dan lebih dari 2000 kasus percobaan bunuh diri. Dalam laporan terbaru juga dikatakan, persentase kasus bunuh diri di kemiliteran Amerika mencapai puncaknya, melebihi persentase bunuh diri yang terjadi di masyarakat sipil.
Bahkan mereka yang dipindahkan dari Iraq ke Afghanistan dengan alasan begitu brutalnya medan perang di Iraq menghadapi situasi yang tidak lebih baik di Afghanistan. Dalam sebuah wawancara, para prajurit yang dipindahkan dari Iraq ke Afghanistan menyatakan bahwa perang di Afghan sepuluh kali lebih brutal daripada perang di Iraq. Sesuatu yang diakui musuh, kadang itulah kenyataannya.
Pada saat kekuatan Taliban bertambah, kita menyaksikan kekuatan musuh malah semakin berkurang, sebuah indikasi bahwa mereka tengah menuju proses kekalahan dalam perang ini. Dengan ijin Allah mereka akan dikalahkan dan mundur dari Afghanistan bersama harapan yang hancur. Jumlah kerugian, baik material dan manusia yang dialami pasukan Amerika dan NATO sudah sedemikian jelas dan tak perlu dibuktikan lagi.
Taliban berperang di negeri dan medan di mana mereka telah sangat mengenal dan berpengalaman bertahun-tahun ketika menghadapi Sovyet. Pengalaman panjang yang semakin meneguhkan iman mereka, mengokohkan kesabaran dan ketabahan, serta menghujamkan mendalam rasa tawakkal hanya kepada Allah Yang Maha Perkasa. Mereka semakin yakin bahwa Allah pasti melimpahkan kemenangan, dan mereka sangat yakin pasukan salib penjajah pasti dapat diusir keluar, dan daulah Islam akan kembali berdiri. Para pejuang Taliban semakin tabah, sementara tentara Amerika semakin tidak kuat menanggung beban perang lebih lama lagi. Kemenangan itu bersama kesabaran. Rasulullah bersabda: “Pahamilah! Kemenangan datang bersama kesabaran”.
Sebagaimana kami sebutkan sebelumnya, Taliban semakin mendapat dukungan masyarakat luas, sementara kebencian rakyat terhadap Amerika dan rejim Kabul semakin meningkat. Ini menyebabkan rejim Kabul semakin lemah, dan basis kekuasaannya semakin sempit. Berdasarkan laporan internasional yang diterbitkan PBB, 2/3 wilayah Afghanistan telah dikuasai Mujahidin.
Setiap hari, pemerintah murtad kehilangan wilayah, khususnya di daerah Selatan, hampir semua telah dimerdekakan oleh Taliban dari penjajahan, dan Syariah diimplementasikan untuk mengurus seluruh urusan rakyatnya. Hanya sedikit kota-kota besar yang masih berada di bawah kendali penjajah, tetapi kota-kota itu dikepung oleh Mujahidin dari berbagai arah. Dalam sebuah laporan yang disampaikan oleh salah satu komandan lapangan kami, disebutkan:
Saya memiliki berbagai hal baik dan menggembirakan tentang situasi Jihad dan Mujahidin di wilayah ini. Banyak wilayah telah dimerdekakan, dan musuh hanya berani menampakkan diri di kota-kota besar atau jalan utama di provinsi ini. Segala puji bagi Allah, moral musuh semakin lemah dari hari ke hari. Dari berbagai berita yang kami dapatkan, kekalahan telah merambat ke dalam barisan musuh.
Sementara kami, walhamdulillah, kami saling dekat dan mencintai satu sama lain, kami menyembah Allah semata, teguh dalam ribath, dan berjihad fi sabilillah. Adakah lagi yang lebih membahagiakan selain itu?
Dia juga berkata:
Saya menulis laporan ini ketika kami tengah merencanakan untuk maju memotong garis pertahanan musuh. Kami menyaksikan mereka dikelilingi oleh Taliban dan para pendukungnya. Saya telah menyaksikan seluruh garis pertahanan musuh, dan kami tidak melewatkan satupun area kecuali di sana ada Taliban dan para pendukung setianya.
Bersama dengan semakin lemahnya rejim boneka, hilangnya kontrol atas banyak daerah, dan tanda-tanda bahwa sekutu salib akan menarik mundur pasukannya dari Afghanistan, Taliban memperoleh dukungan lebih luas, semakin banyak rakyat bergabung dalam barisannya, baik itu dari dalam Afghanistan maupun luar Afghanistan.
Jenderal David Mckiernan, pejabat militer Amerika, berkata tentang perlunya menambah pasukan demi menghadapi semakin banyaknya pejuang antar bangsa di Afghanistan. Ia berkata:
Kami dalam situasi penuh kekerasan tahun ini. Di pelosok timur atau barat, kami menyaksikan ketakstabilan semakin meningkat.
Menteri Pertahanan Afghanistan berkata hal yang sama:
Tidak diragukan, mereka (Mujahidin) lebih maju dan memiliki perlengkapan lebih baik daripada sebelumnya. Mereka juga sangat terlatih, sangat terkoordinasi, dan memiliki bekalan pengalaman lebih baik.
Kami menyaksikan semakin lebar jurang perpecahan antara pasukan anggota NATO. Banyak tentara anggota NATO putus asa dan marah menghadapi perang yang seakan tiada berakhir ini, sementara kerugian dan kekalahan telah menimpa mereka. Pada akhirnya, Amerika akan ditinggalkan sendirian di Afghanistan untuk menghadapi kekalahannya di Afghanistan, insya Allah.
Satu demi satu, para sekutu musuh akan pergi mengundurkan diri, insya Allah, seperti di Iraq. Mereka bahkan lebih terbuka dengan menyatakan bahwa mereka semakin tidak punya alasan yang kuat untuk melanjutkan perang yang kalah ini. Mereka semakin menyadari bahwa mereka tidak mampu melanjutkan kampanye militer menghadapi perlawanan rakyat yang tabah ini di satu sisi, di sisi lain mereka juga menghadapi perpecahan di barisan mereka sendiri. Pernyataan ini contohnya dikatakan oleh komandan militer Kanada yang pasukannya telah merasakan pahitnya kematian di Kandahar. Perdana Menteri Kanada Stephen Harper berkata pada CBS bahwa pasukan persekutuan Eropa dan NATO tidak dapat bertahan ‘selamanya’ di Afghanistan, dan pasukan multinasional ini juga tidak mampu untuk menjaga keamanan di ‘seluruh pelosok’ Afghanistan. Salah satu media massa Inggris mengutip kata-kata salah seorang komandan militer Inggris di Afghanistan yang mengingatkan bahwa Inggris tidak akan memenangkan perang ini, dan harus mempersiapkan langkah-langkah antisipasi termasuk bernegosiasi dengan Taliban daripada tetap bersikeras melanjutkan perang.
Koran Sunday Times menyampaikan berita ‘bocoran’ dari Komandan Brigade Udara ke 16 Inggris, Brigadir Mark Carleton Smith, mengomentari sebuah memo dari diplomat Perancis di Kabul, bahwa Duta Besar Inggris untuk Afghanistan (Sir Sherard Cowper Coles) menyatakan strategi NATO di Afghanistan telah “hancur berantakan” (doomed to fail).
Carleton Smith berkata bahwa “Kita perlu menurunkan ekspektasi kita”. Ia berkata: “Kita tidak akan dapat memenangkan perang ini. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menurunkan tensinya hingga pada tingkat dapat mengendalikan perlawanan sehingga dapat diatasi oleh militer Afghan sendiri”.
Komandan Pasukan Khusus Inggris mengajukan pengunduran diri sebagai protes atas apa yang ia sebut sebagai “investasi tak memadai yang kronis” (chronic underinvestment) atas perlengkapan yang dibutuhkan tentaranya untuk diterjunkan ke daerah konflik. Tetapi sebenarnya, pengunduran dirinya bukan semata akibat perlengkapan tak memadai, tetapi akibat kekalahan besar yang diderita pasukannya di tangan Mujahidin di Helmand. Sebuah jajak pendapat masyarakat di Inggris menampilkan data bahwa 66% responden menginginkan agar militer Inggris ditarik keluar dari Afghanistan.
Di Helmand, lebih dari 60% tentara Belanda mendukung usulan agar pemerintahnya segera menarik mundur seluruh kekuatan militer Belanda yang saat ini ditempatkan di Afghanistan.
Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier menyatakan keinginannya untuk mengakhiri keikutsertaan Jerman dalam pasukan persekutuan bersama Amerika untuk menjajah Afghanistan, karena kekhawatirannya menyaksikan kebangkitan Taliban dan meningkatnya kualitas dan kuantitas serangan Mujahidin terhadap pasukan asing.
Dalam sebuah konferensi pers, Steinmeier mengakui bahwa pasukan khusus Jerman (yang berjumlah ratusan) yang ditempatkan di Afghanistan belum pernah melaksanakan satupun misi (ekspansi ke luar barak) selama tiga tahun terakhir, karena kenyataannya mereka ‘sibuk’ bertahan dari serangan Taliban yang dilancarkan dari waktu ke waktu.
Steinmeier menyerukan untuk menarik mundur pasukan khusus Jerman dari Afghanistan, cukuplah menempatkan sejumlah pasukan Jerman yang tergabung dalam pasukan intai udara ISAF tetap dipertahankan di Afghanistan.
Kementerian Pertahanan Jerman telah mengkonfirmasikan bahwa Jerman tidak akan memperpanjang penempatan pasukan elite KSK untuk membantu operasi kontra teroris yang dipimpin Amerika di Afghanistan. Keputusan ini diambil setelah melihat dukungan rakyat Jerman untuk melanjutkan perang di Afghanistan semakin merosot tajam sementara kekuatan oposisi kiri semakin menguat.
Begitu juga keputusan pemerintah Obama untuk menambah pasukan perang Amerika di Afghanistan, tidak akan menambah atau merubah apa-apa, atau menyeimbangkan kekuatan. Operasi militer yang dilancarkan Taliban akan terus dilakukan dan ditingkatkan. Penambahan pasukan perang Amerika hanya berarti satu, yaitu penambahan jumlah kematian tentara mereka, insya Allah.
Dalam sebuah rilis resmi Taliban menyebutkan:
Menambah lebih banyak tentara tidak akan merubah apapun. Mujahidin Taliban dan rakyat Afghan akan mengalahkan mereka.
Gagalnya militer Amerika, NATO, dan rejim boneka untuk mengendalikan situasi dan melenyapkan Taliban akan mendorong semakin nyatanya kekalahan total Amerika, dan kemenangan Taliban. La haula wala quwwata illa billah.
Siapa yang pernah memperkirakan, bahwa suatu hari Sekretaris Pertahanan Amerika, Robert Gates, akan menyambut tawaran negosiasi dengan Taliban atau menawarkan pembagian kekuasaan? Siapa yang pernah mengira bahwa Kanada, Inggris, Jerman, bahkan PBB akan mengakui bahwa perang ini tak dapat dimenangkan secara militer, dan menyeru untuk melakukan pendekatan politis? Dan siapa yang dapat mengira bahwa ternyata Taliban menolak dengan tegas tawaran negosiasi ini?
Tetapi siapa saja yang mengikuti sejarah akan mengetahui bahwa tiada satupun kekuatan yang menginvasi Afghanistan, melainkan dengan ijin Allah akan dipatahkan, dikalahkan, dan lari tunggang langgang. Hari ini sejarah berulang, dan Taliban tengah di gerbang yang sangat menentukan untuk menumpas habis kekuatan penjajah dan hampir meraih kemenangan menentukan atas Amerika di seluruh front,baik itu politik, militer, atau ekonomi, insya Allah. Kekalahan pasukan persekutuan ini mengingatkan kita pada kekalahan Inggris dulu di Khyber Pass.
Sheikhul Mujahidin, Usamah bin Ladin, semoga Allah menjaga Beliau, berkata:
Dan inilah Amerika hari ini, tersengal-sengal nafasnya menghadapi serangan sengit Mujahidin, menghadapi kolaps baik militer dan financial, dan sekarang ia jatuh dalam krisis ekonomi yang dalam, mengemis uang dan bantuan dari negeri-negeri lain. Hari ini ia tidak lagi begitu ditakuti atau dihormati oleh musuh ataupun kawan.
Amirul Mu’minin Mullah Muhammad Umar Mujahid, semoga Allah menjaga Beliau, menyampaikan kepada kita kabar gembira dalam khutbah Idul Fitrinya:
Saya hendak menghibur seluruh keluarga kami yang berkabung, bahwa darah yang kalian korbankan tak akan sia-sia. Darah orang-orang yang kalian cintai tidaklah sepadan dengan satupun milik musuh yang hina. Mereka semua ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah. Allah akan mengalahkan musuh penjajah ini sebagai balasan dari darah mulia yang tumpah, dan demi seluruh hal-hal kudus dan pengorbanan yang suci, Allah akan melimpahkan kepada kita kekuasaan dan daulah Islam yang penuh kemurnian dan keadilan.
…
Situasi saat ini penuh dengan pertanda turunnya Pertolongan Allah. Tidak ada orang sebelumnya mengira bahwa Amerika akan bisa dikalahkan, jika melihat kehebatan persenjataan dan kekuatan militernya. Tetapi hari ini kita menyaksikan ia mengirimkan lebih banyak lagi peti mati untuk tentaranya yang malang. Kita menyaksikannya terhuyung-huyung dilanda kekalahan hebat baik militer maupun financial.
Kami menutup artikel ini dengan mengutip sebuah reportasi harian dari salah seorang Ikhwan kami Mujahidin, yang merangkum segala hal yang ia saksikan selama musim panas di Afghanistan:
Hari demi hari, makin banyak dan semakin banyak orang menawarkan pada kami perlindungan dan dukungan. Rakyat umum mencintai Taliban. Jika mereka berselisih maka mereka datang pada Taliban dan memintanya menjadi penengah. Makin banyak dan semakin banyak pemuda dari kalangan rakyat, kebanyakan mereka berusia di antara 15 hingga 17, datang kepada para pimpinan Mujahidin, memohon agar diperbolehkan bergabung bersama tentara Imarah Islam, atau memohon agar diijinkan melaksanakan amaliyah istisyadiyah. Cinta syahadah makin menguat dalam diri mereka, dan ini sangat ditakuti oleh para musuh Allah.
Kami menyaksikan Taliban semakin baik manajemennya. Mereka dapat berkomunikasi dan berkoordinasi dengan kesatuan-kesatuan Mujahidin di kota-kota lainnya. Di setiap daerah yang berhasil mereka kuasai, mereka menjaga keamanan, berpatroli malam, dan mereka melaksanakan berbagai urusannya dengan terorganisasi secara baik.
Ukhuwah, cinta, persatuan, dan kerjasama begitu erat dalam barisan Taliban. Kami berdoa kepada Allah agar sentiasa mengokohkan mereka dan menghindarkan mereka dari tipu daya.
Setiap saat, kami menyaksikan kami dapat merebut banyak ghanimah dari tentara pemerintah murtaddin.
Setiap saat, walhamdulillah, dalam keadaan apapun misi dakwah tidak pernah kami lalaikan. Di mana saja daerah yang kami kuasai, kami akan berhimpun di masjid dan berdakwah kepada masyarakat. Kami menyeru manusia untuk menepati tiga hal utama:
1.Urgensi menegakkan Tauhid dalam kehidupan
2.Urgensi untuk menepati kondisi-kondisi diterimanya amal dalam kehidupan (Ikhlash dan ittiba’)
3.Urgensi untuk menepati kewajiban Jihad fi Sabilillah
Demikian saya menyampaikan. Kami memohon kepada Allah agar melimpahkan kemuliaan dan kejayaan kepada Islam dan Kaum Muslimin, dan agar Kalimatul Haq serta Din Allah dzahir di atas bentang kehidupan.
Diterjemahkan oleh: Forum Al Tawbah
Juli 13, 2009 at 2:03 pm
Allahu Akbar!!!