spanduk-285

Tadi malam Amrozi, Imam Samudera dan Ali Ghufron sudah menjalani eksekusi hukuman mati. Kematian ketiga pelaku utama bom Bali I ini disambut hangat di daerah masing-masing. Ribuan orang datang, mengantar ke pintu gerbang liang lahat. Bukan karangan bunga yang dibawa oleh pelayat, melainkan sepanduk yang bertuliskan, “Selamat Datang Syuhada’… in sya’Allah”, dan yang senada.

Ribuan orang yang melayat Amrozi dan Muklas, ataupun Abdul Aziz tersbut meneriakkan takbir berulang-ulang. Dalam benak, mereka (para pelayat) yang mereka antarkan adalah seorang syahid (in sya’Allah). Sebab merka berjuang untuk menegakkan kalimatullah, menghancurkan berhala yang bernama Amerika Serikat.

Tetapi penilian yang berbeda dikemukakan oleh ketua komisi fatwa MUI, Ma’ruf Amin. Dia mengatakan bahwa Amrozi cs tidak syahid, karena perjuangan Amrozi bukan jihad. “Jihad itu di wilayah konflik, sementara Indonesia bukan wilayah konflik” katanya.

Dua penilaian yang berlatar belakang berbeda, kesimpulan pun bereda pula. Bagi Ma’ruf Amin, Islam yang dipandangnya adalah Islam ramah, dan tidak perlu untuk diperjuangkan mati-matian. kalau pemerintah mengizinkan ya… dijalani, kalau tidak ya sudah. Sabar….

Sementara logika yang digunakan para pemuda pelayat tidak demikian. Mereka memandang islam tidak boleh tunduk di hadapan kaum kafir. Sebagaimana yang dikatakan oleh Max Weber, Islam adalah agama ksatria. Maka menjadi orang Islam harus ksatria, panang diinjak.

Islam diturunkan oleh Allah untuk dimenangkan di atas semua agama dan aliran. Sementara kini islam dipaksa untuk takluk di bawah ajaran non-Islam, yang diberi nama demokrasi. Maka demokrasi harus ditumbangkan, dan penganjur demokrasi paling utama, yakni Amerika pun harus dirontokkan. Meninggal dalam upaya merontokkan berhala demokrasi ini dianggap sebagai syahid.

Penilaianmu ????