Apa pendapat Anda tentang pesta Seks? Ihhh menjijikkah…. Ngapain sih Abah zacky nanyain kayak gitu? Kayak kurang pertanyaan saja?
Saya kemarin baca-baca di forum internet, dan tak sengaja membaca bahwa Muqtada Ash-Shadr, pimpinan tertinggi Jaisy Imam Mahdi, yang beraliran Syi’ah itu mengizinkan anggota pasukannya melakukan pesta mut’ah secara kolosal. Awalnya saya tak percaya, setelah saya googling, ternyata ada 9 situs yang menyebutkannya. Sumber yang pertama mana saya tidak tahu. benar atau tidaknya juga tidak tahu. tetapi kalau benar, sungguh amat menjijikkan sekaleee…. Mau baca fatwa ash-Shadr itu? baca saja terus….
Terjemahnya, kurang lebih adalah sebagai berikut;
Bismillahirrahmanirahim
Yang Mulia, Hujjatul Islam wal Muslimin, Sayyidul Mujahid, Muqtada ash-Shadr.
Kami sekumpulan mu’minat Zainabiyyah yang mendukung pasukan al-Imam al-Mahdi, ingin mengajukan pertanyaan kepada Yang mulia Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Muqtada ash-Shadr haafidzahullah, bahwa sejumlah anggota pasukan jaisy Imam Mahdi telah menghadap kami untuk mengundang kami menghadiri pesta mut’ah secara jama’i di salah satu Husainiyyah. Mereka mengatakan bahwa mut’ah secara berjama’ah itu pahalanya berlipat ganda hingga 70 kali lipad daripada mut’ah sendirian. Dan kami telah menanyakan kepada salah seorang pimpinan, yakni Syaikh Muhammad al-Ya’qubi tentang mut’ah secara jama’i ini tetapi beliau menyatakan ketidak tahuannya tentang dasar persoalan ini sehingga beliau menyatakannya sebagai sebuah bid’ah. Bolehkah kita melakukan mut’ah secara berjama’ah? Perlu diketahui bahwa mut’ah ini hanya terjadi beberapa jam saja, (tidak sampai satu malam). Dan tujuan dari pesta mut’ah ini adalah untuk mencegah munculnya keinginan anggota Jaisy Imam Mahdi, khususnya yang belum bisa melakukan nikah, suapaya lebih focus dalam melakukan peperangan bersama para pimpinan. Benarkah kalau pahala mut’ah ini seperti ikut mempersiapkan senjata bagi anggota pasukan jaisy Imam Mahdi? Mohon jawabannya, jazakumllah khairal jaza’Zainabiyyah
Azhar hasan al-Furthusi
Perwakilan kumpulan Zainabiyyah
17 Syawal 1426 HDengan namaNya yang Maha Tinggi
Telah kita ketahui bahwa di dalam madzhab kita (syi’ah) nikah mut’ah itu adalah halal mubarakah, tetapi beberapa pimpinan telah menampakkan sikap yang menimbulkan keragu-raguan di antara kita, dan melarang hal tersebut karena khawatir akan bertambah banyaknya anak-anak madzhab kita dan banyaknya jumlah anggota kita sehingga kita menjadi kekuatan besar. Karena itulah kami menyerukan kepada anggota madzhab kita untuk tidak mengkhawatirkan apapun tentang persoalan nikah mut’ah. Persoalan mut’ah secara jama’i pun persoalan yang diperbolehkan oleh (para ulama’) maraji’ kita yang agung. Dengan catatan jangan sampai ada orang non muslim atau anak-anak umum yang mengikuti pesta itu agar tidak melihat aurat kaum mukminat. Agaknya hal inilah yang menyebabkan Syaikh Ya’qubi tidak menyukainya.
Demikianlah, dan telah kita ketahui bahwa mut’ah dengan anggota Jaisy Imam Mahdi daripada mut’ah dengan orang lain, karena anggota Jaisy Imam ini telah mencurahkan darahnya untuk kejayaan Imam. Karena itulah kami berharap agar para wanita Zainabiyyah tidak bakhil terhadap mereka, dari tubuh dan harta yang telah diberikan oleh Allah. Kami mengajak para akhwat Zainabiyyah untuk memegang maraji’ salah seorang wakil kami yang terpercaya untuk meminta izin dalam melakukan perta mut’ah, sehingga semuanya berada dalam satu pengawasan dan kekuasaan Jaisy imam Mahdi.
Jazakumullah khaira jazail muhsinin
Muqtada ash-Shadr.
Di dalam Arabiyah net, beberapa kalangan Syi’ah membantah keaslian ash-Shadr telah berfatwa demikian. Setidaknya ada tiga alasan menunjukkan bahwa fatwa itu palsu, 1) tempatnya adalah a-Husainiyyah, padahal tradisi syi’ah melarang adanya pernikahan di husainiyyah. 2) istilah abna’ul ammah (anak-anak umum) padahal kebiasaan kaum syi’ah menyebut kaum sunni sebagai anak-anak golongan sunni, 3) istilah nawashib, biasanya digunakan oleh kaum ghullat.
Tetapi mengingat bahwa di kalangan syi’ah ada kebiasaan taqiyyah, maka benar dan tidaknya menjadi rumit. Yang jelas berita telah bergulir…

Oktober 17, 2008 at 1:04 am
Salam wa rahmah,
Terima kasih sekali atas infonya. Ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan saya.
Kita belum mengetahui apakah memang fatwa tersebut betul-betul merupakan fatwa dari Muqtada Shadr ataukah dari musuh-musuh Islam yang berusaha memfitnah beliau.
Insya Allah beberapa hari ini akan saya tanyakan kepada beberapa teman di Iran. Ini merupakan isu penting bagi saya, walaupun dalam beberapa hal saya tidak sepakat dengan beliau.
Namun sebelumnya, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Anda diatas menyebutkan bahwa ada 9 website yang mencantumkan fatwa tersebut. Bolehkah saya tahu website apa saja itu?
Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.
wassalam.
Oktober 17, 2008 at 11:31 am
Benar apa tidak yg penting Islam itu memang mengakomodir kawin mutah
selamat deh
Nanti di surga bukannya malah dengan 72 bidadari bahenol yg perwan terus?
hehehehe
Oktober 17, 2008 at 11:47 am
Assalaamu’alaikum,
Tidak mengherankan jika berita ini benar, karena sudah pernah ada fatwa syi’ah yang juga menjijikkan, Bah.
Ayatollah Muhammad Sadiq Ar-Ruhani di dalam situsnya http://www.istefta.com/ans.php?stfid=5794&subid=9 ditanya:
“Apa hukumnya seorang istri memasukkan sesuatu ke dalam anus suaminya saat foreplay, boleh atau haram? Akankah ini membatalkan pernikahan dan (menjadi penyebab) perceraian seperti (pada hal) homoseksual (liwath)?”
Jawaban sang ‘Ayatollah’:
“Dengan Nama-Nama Allah Yang Agung:
Jika hal itu dilakukan dengan seizin sang suami, maka hal itu boleh. (Hal ini) Tidak bisa disamakan dengan perbuatan homoseksual.”
Sampai sekarang link itu masih ada. Ini capture fatwanya http://alhajjaj.jeeran.com/Rohani.jpg
Oktober 17, 2008 at 3:15 pm
NAmanya juga syiah….
Oktober 17, 2008 at 3:16 pm
MENJIJIKKAN….!!!!!!
Oktober 17, 2008 at 3:46 pm
Saya masih menunggu jawaban dari Abah Zacky nih.
@yuniyanto
Santai aja, nanti akan ketahuan siapa yang menjijikan.
Saat ini saya hanya tinggal menunggu jawaban dari Abah zacky.
————–
abah:
Saya cuman buat pernyataan, in sya’allah berimbang. Ada yang memberitakan begitu, dan sudah saya muat pula perimbangannya, yang membantah. Terserah kepada pembaca, percaya atau tidak. Ressay mungkin bisa menjelaskan soal taqiyyah???
Oktober 18, 2008 at 6:42 am
syiah= kafir, jadi biasa deh pesta kebinatangan seperti tulisan diatas namanya juga kafir, mahluk yang lebih buruk dari binatang.
si syiah ressay yang tukang tipu, anak kecil bau pesing yang sok tau lebih baik mati daripada komentar.
Oktober 18, 2008 at 3:16 pm
Gimana nih bah? kok gak dijawab-jawab sih?
9 websitenya apa saja?
Oktober 18, 2008 at 3:22 pm
@pembunuh syiah
Ndak bisa membantah argumenku, akhirnya Anda menunjukkan kebodohan Anda dengna berkata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim.
Saya lebih menghormati Abu Zacky yang bertutur kata halus, ketimbang anda yang nampaknya baru bergabung dengan komunitas yang saat ini sedang Anda ikuti.
@abahzacky
Saya tidak melarang Anda mempostingkan tulisan itu. Saya malah berterima kasih sekali. Demi Allah, saya senang anda mempostingkan tersebut. karena jika Anda tidak melakukannya, mungkin saat ini saya tidak mengetahuinya.
Sekali lagi, saya meminta 9 website yang Anda maksud diatas.
apakah itu menyulitkan Anda?
Soal, taqiyyah, saya pikir ndak ada sangkut pautnya dengan pemabahasan pada postingan ini.
saya kira Anda cukup cerdas untuk memisahkan kedua permasalahan tersebut.
Oktober 18, 2008 at 5:59 pm
Mengapa Kita Menolak Syiah
Friday, 02 November 2007
Shirathal Mustaqim – Vol. 5, No. 6
Semangat Ahmadinejad, presiden Iran, dalam menghasung dunia Islam untuk menghadapi Israel dan AS begitu menggebu. Dengan berani, ia menyatakan bahwa Israel hendaknya dihapus dari peta dunia. Program nuklirnya yang jalan terus di tengah ancaman AS menambah simpati. Sempat beredar SMS untuk mendukung Ahmadinejad di negeri ini kala ia melawat berpidato di kampus-kampus.
Belum sampai 30 tahun yang lalu, dunia Islam juga merasakan hembusan semangat dari Iran. Revolusi Iran ala Khomeini yang menggulingkan Shah Reza Pahlevi disambut gempita umat Islam. Saat ini, hal itu hampir terjadi lagi dengan sepak terjang Ahmadinejad. Umat Islam menganggap semangat Iran sebagai semangat Islam. Padahal jauh sekali antara Islam dan mereka. Ini tak lain karena mereka beragama Syi’ah, sebuah agama yang berbeda dengan Islam.
Agama negara Iran saat ini adalah Syi’ah Itsna Asy’ariyah, hal ini tercantum dalam konstitusi yang mereka pakai sejak Revolusi Khomeini hingga saat ini, “Agama resmi Negara adalah madzhab Itsna Asy’ariyah. Dan pasal ini tidak boleh diubah.”
Syiah Itsna Asy’ariyah
Syi’ah Iran disebut Itsna Asy’ariyah karena mereka mengaku mempunyai imam sebanyak 12 orang dari kalangan ahlul bait.atau Syi’ah Imamiyah. Imam mereka yang terakhir, Muhammad Mahdi bin Muhammad Al-Askari, menurut mereka, menghilang untuk sementara waktu pada usia 5 tahun ke dalam sebuah goa di Sammara (sebuah kota di Irak dekat sungai Tigris, arah utara dari Baghdad), dan akan kembali pada akhir dunia sebagai Imam Mahdi. Karena itu mereka juga disebut Syi’ah 12 Imam
Syi’ah saat ini juga disebut sebagai Rafidhah. Ada beberapa pendapat sebab penamaan ini.
Ada yang mengatakan mereka dinamakan Rafidhah, karena mereka menolak Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah sahabat kakeknya (maksudnya adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam-red), dan bahwa Zaid setia kepada keduanya. Ada yang mengatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar. Dikatakan juga, mereka disebut dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.
Sejarah Munculnya
Paham Syi’ah berawal dari Abdullah ibn Saba’. Ia adalah seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Semasa Yahudi, ia mendapatkan cerita bahwa Yusya’ bin Nun mendapatkan wasiat kepemimpinan dari Nabi Musa. Karena itu, ia pun mengatakan, dalam Islam, Ali bin Abi Thalib juga mendapatkan wasiat kepemimpinan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menggantikan beliau shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian ia pun mengecam khalifah sebelum Ali; Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta beberapa sahabat yang memihak mereka.
Perbuatannya itu ia katakan berdasar perintah Ali. Terhadap kedustaan ini, Abdullah bin Saba’ dihadapkan kepada Ali. Ali menjatuhkan hukuman mati atas Ibn Saba’. Namun karena ada yang menasehati Ali agar orang itu tidak dibunuh, maka Ibn Saba’ pun dibuang ke Madain, ibukota Iran waktu itu.
Saat Ibn Saba’ tiba di Madain, terdengarlah berita kematian Ali. Ibn Saba’ menolak wafatnya Ali, “Aku sendiri menyatakan ia tidak tewas. Ali tidak akan wafat. Tidak akan terbunuh sebelum ia dapat menguasai seluruh permukaan bumi ini.”
Mulailah Ibn Saba’ merajalela. Ia mengatakan Ali tidak terbunuh karena pada diri Ali terdapat unsur ketuhanan. Menurutnya, Ali sering menjelma dalam bentuk awan. Guruh adalah suaranya, petir adalah cemetinya. Ibn Saba’ pun mempunyai pengikut yang terus mengembangkan pahamnya hingga terkenal menjadi Syi’ah.
Imamah
Imamah atau kepemimpinan Islam merupakan doktrin utama Syi’ah. Ini adalah prinsip utama mereka sejak masa Ibn Saba’.shallallahu alaihi wa sallamshallallahu alaihi wa sallam. Untuk mendukung keyakinan mereka, mereka mengarang cerita palsu bahwa sepulang dari Haji Wada’, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewasiatkan kepemimpinan Islam kepada Ali di tempat yang bernama Ghadir Kum. Mereka kemudian meyakini setiap imam mereka pun mewasiatkan kepemimpinan pada imam berikutnya. Syi’ah Imamiyah berkeyakinan bahwa Allah telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menunjuk Ali dan mengangkatnya sebagai pemimpin umat manusia setelah beliau
Seorang ulama Syi’ah, Muhammmad Al-Husein Ali Kasyiful Ghitha’ dalam bukunya, Ashlusy-Syi’ah wa Ushuuluha berkata, “Arti Imamah, telah saya jelaskan, bahwa hal ini (imamah) merupakan dasar utama yang hanya dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dan menjadikan Imamiyah berbeda dari aliran-aliran dalam Islam lainnya.”
Berkaitan dengan masalah imamah ini pula orang Syi’ah menuduh Al-Quran yang ada sekarang ini telah diubah. Mereka menganggap ayat-ayat yang berhubungan dengan kepemimpinan Ali telah dihapus. Mereka sendiri mengaku punya Mushaf Fathimah yang tebalnya 3 kali Al-Quran.
Aqidah Syi’ah tentang Imam Mereka
Khomeini dalam bukunya, Al-Hukumah Al-Islamiyah, berkata, “Setiap imam memiliki martabat yang tinggi dan terpuji.Sudah menjadi keyakinan kita bahwa para imam itu menempati martabat yang tidak dijangkau oleh para malaikat yang didekatkan ataupun para nabi yang diutus.” Kekuasaannya meliputi molekul dan atom di alam ini… Jangan kita bayangkan para imam itu bisa lupa atau lalai…
Ibrahim Al-Amili, ulama Syi’ah zaman ini, bersyair tentang Ali, “Abu Hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati)/dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi/Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,/maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul./Engkaulah yang mengendalikan poros alam,/
Bagimu para ulamanya yang tinggi./Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,/bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.”
Dengan keyakinan bahwa imam mereka lebih tinggi dari malaikat dan para nabi serta mempunyai unsur ketuhanan, jelaslah aqidah mereka adalah aqidah yang syirik dan kufur.
Pelacuran Atas Nama Nikah
Syi’ah juga mempunyai nikah mut’ah alias kawin kontrak. Nikah mut’ah dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan untuk beberapa waktu tertentu dengan imbalan tertentu dari pihak laki-laki kepada si perempuan tanpa wali, tanpa talak, tanpa waris-mewarisi dan tidak terbatas pada jumlah perempuannya.
Syi’ah mengatakan bahwa mut’ah boleh dilakukan terhadap wanita Nasrani, Yahudi, dan Majusi. Ulama Syi’ah, Ath-Thusi, dalam Tahdzibul Ahkam, berkata, “Boleh dengan wanita pelacur, karena itu dapat mencegah dari berbuat dosa.” Khomeini dalam Tahrirul Washilah berkata, mut’ah boleh dilakukan dengan wanita pezina.
Tak kalah menjijikkan, Syi’ah membolehkan menyetubuhi wanita lewat duburnya. Tercantum dalam kitab Syi’ah, Al-Istibshoor, dari Ali bin Al-Hakam ia berkata, “Saya telah mendengar Shofwan berkata, ‘Saya telah berkata kepada Al-Ridha, ‘Sesungguhnya seorang laki-laki dari budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah, maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakannya.’ Ia berkata, ‘Apa itu?’ Ia berkata, ‘Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di lubang anusnya?’ Ia menjawab, ‘Ya, hal itu boleh baginya.’”
Pandangan Syi’ah terhadap Selainnya
Syi’ah memandang orang selain Syi’ah adalah kafir. Kamil Sulaiman dalam Kitabu Al-Khalash fi Zhilli Al-Qaim Al-Mahdi berkata, “Siapa yang meyakini para imam dua belas adalah orang beriman, dan siapa yang mengingkari mereka adalah orang kafir.”
Yusuf Al-Bahrani, ulama Syiah abad XVII, berkata, “Tidak ada beda sama sekali antara orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan kafir terhadap para imam.”
Seorang ulama Pakistan, Syaikh Abdul Qadir Azad pernah mendatangi undangan Iran dalam perayaan 3 tahun revolusi Iran. Ia bercerita, “Pada saat itu kami menyaksikan poster-poster besar terpampang di dinding-dinding Hotel Hilton Teheran, dengan tulisan ‘Kita akan membebaskan Ka’bah, Baitul Maqdis, dan Palestina dari belenggu kaum kuffar.’” Sudah jelas siapa yang saat ini menguasai wilayah di mana Ka’bah berdiri.
Taqiyah
Lalu mengapa mereka seakan-akan sama dengan umat Islam? Ini tak lain karena mereka mempunyai paham taqiyah.
Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka, Muhammad Jawaad Mughniyah, sebagai, “Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu.”
Al-Kulaini menukilkan di Ushul al-Kafi, kitab Syi’ah, “Berkata Abu Abdillah, ‘Wahai Abu Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.’”
Maka orang Syi’ah memandang taqiyah adalah wajib, tidak akan berdiri mazhab mereka kecuali dengan taqiyah. Mereka selalu melaksanakan taqiyah, terlebih-lebih, bila kondisi yang sulit telah mengepung mereka. Jadi tak heran jika saat ini mereka tampak bersama umat Islam dan tak mengusik umat Islam. Jika kesempatan telah terbuka bagi mereka, tentu yang terjadi adalah lain.
Di Indonesia, terdapat pula orang atau lembaga yang cenderung kepada agama Syi’ah. Penerbit Mizan misalnya, beserta anak perusahaannya, adalah penerbit yang intens menerbitkan buku-buku Syi’ah. Ada juga Pesantren YAPI yang juru dakwahnya tersebar di hampir setiap kota. Saat ini ada pula IJABI atau Ikatan Jama’ah Ahlul Bait yang juga tersebar perwakilannya di kota-kota besar.
Dengan mengetahui akidah, pemikiran, dan syariah Syi’ah wajar jika kita emoh dengan paham seperti itu. Di Jakarta pernah diadakan seminar nasional tentang Syi’ah yang menghasilkan usulan kepada pihak pemerintah untuk mewaspadai dan memberi gelar paham ini sebagai paham terlarang. Semoga saja sepak terjang Ahmadinejad tidak membuat kita lupa tentang akidah bobrok Syi’ah yang berbeda dengan Islam.(Abu Ukasyah)
Sumber:
Di Antara Aqidah Syi’ah, Abdullah bin Muhammad As-Salafi.
Hakikat Syi’ah, Dr. Abdullah Muh. Gharib, Prof. Dr. Ihsan Ilahi Dzhahir, Syaikh Abul Hasan An-Nadwi, Syaikh Muhammad Abdul Qadir Azad
As-Sunnah, Edisi 16/Th ke-2
Mengapa Kita Menolak Syi’ah: Kumpulan Makalah Seminar Nasional tentang Syi’ah, Irfan Zidny, M.A. oleh LPPI
Oktober 18, 2008 at 10:09 pm
Abah Zacky, knapa kok gak dijawab pertanyaan saya?
—————
abah:
afwan sdr ressay, baru jawab.
sebenarnya Antum bisa cari sendiri lewat google, dengan kata kuci beberapa kata dari gambar copyan fatwa yang saya sertakan. tetapi kalau antum kesulitan boleh dilihat di alamat-alamat berikut ini. seiring dengan berlalunya waktu, jumlah bisa bertambah, karena sudah dicopy pastekan di beberpa alamat lain.
1. http://www.11emam.com/vb/showpost.php?p=11242&postcount=1
2. http://www.unitedcopts.org/index.php?option=com_content&task=view&id=489&Itemid=71
3. http://www.11c11.com/vb/showthread.php?p=79974
4. lahdah.com/vb/showthread.php?t=61644
5. http://www.123arab.com/vb/archive/index.php/t-20452.html
6. http://www.palbazaar.com/0/viewtopic.php?topic=100030
7. http://www.palvoice.com/forums/showthread.php?t=76201
8. http://www.xwdakan.com/babaty-taybat/Muqteda-sadr-ftwa.htm
9. http://www.albainah.net/Index.aspx?function=Item&id=16839&lang=
10. forum.sh3bwah.maktoob.com/t53262.html
Oktober 18, 2008 at 10:10 pm
@abu umar al faruq
Ya elah, copy paste.
Oktober 19, 2008 at 4:54 pm
assalamu’alaikum wr wb,
sebelumnya biar rada telat gak papa ya
taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.. Kullu Aam wa antum bikhair … taqabbal ya karim…
@ressay
inna lillahi … sejak kapan ya disini gak boleh copy paste? wong info yang berguna kok
Oktober 19, 2008 at 5:36 pm
binatang ressay berkata bahwa saya adalah bodoh, hey binatang syiah yang masih kuliah S1 saja kamu sudah sombong ngatain org lain bodoh, ingat bung selama anda membela syiah laknatulloh anda hanyalah binatang, lalu buat apa saya ber-adu argumen dengan binatang……..binatang yang suka taqiyyah seharusnya dibunuh seperti kecoa……..
Oktober 20, 2008 at 11:08 am
@Abah zacky
Terima kasih ustadz atas info linknya.
Terlepas dari, apakah benar fatwa itu disampaikan oleh Muqtada Shadr.
Satu hal yang perlu kita ketahui bersama, bahwa dalam syiah terdapat struktur mujtahid. Seorang ulama diperbolehkan mengeluarkan fatwa jika telah mencapai syarat-syarat tertentu sebagai mujtahid. Dalam Syiah dikenal dengan istilah marji’.
Dalam hal ini, Muqtada Shadr bukanlah seorang marji’. Dia hanya seorang pemimpin Jaisy Imam Mahdi. Dia bukan seorang mujtahid yang memiliki kewenangan untuk berfatwa. Muqtadha Shadr statusnya (sepengetahuanku) masih seorang muqallid. Marji’ Taqlidnya adalah Ayatullah Kazhim Haeri.
Saat ditanya tentang siapakah tokoh keagamaan yang paling dihormatinya, Muqtada menyebut nama Ayatullah Kazhim Haeri, salah satu murid Ayatullah Muhjammad Baqir Sadr. Ia menyimpulkan hal itu berdasarakan pandangan ayahnya, Ayatullah Muhammad sadiq Sadr.
Dari jawaban itu, terlihat dengan jelas, Muqtada sadr tidak memiliki hubungan ketaatan dengan Ayatullah Sistani, tokoh Syiah paling berpengaruh di Irak saat ini.
Ada beberapa kemungkinan dari fatwa2 tersebut:
1. Fatwa tersebut dibuat dan disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan Muqtada Shadr. Tujuannya untuk mendiskreditkan beliau. Tampak sekali si pembuat tidak mengetahui konsep mujtahid dalam syiah.
2. Fatwa tersebut memang benar adanya bahwa diucapkan oleh Muqtada Shadr. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan konsep mujtahid dalam syiah. Bahwa Muqtada Shadr belum mendapat “sertifikat” untuk mengeluarkan fatwa. Dia statusnya masih Muqallid.
@Abi Fathimah
Seingat saya, saya tidak pernah melarang copy paste disini. Betul, info itu sangat berguna, bukan hanya untuk Anda dan kel ompok, tetapi juga untuk saya pribadi ini sangat berguna sekali. Sebelumnya saya tidak mengetahui info tersebut.
@pembunuh syiah
Ya sudah terserah kamu mau berkomentar apa. Toh selama ini kamu gak berargumen apa2 bos.
Oktober 20, 2008 at 11:10 am
Untuk menunjukkan kepada Abi Fathimah bahwa saya tidak melarang copy paste disini, saya coba copy paste, tetapi hanya sebatas link saja.
http://muhsinlabib.wordpress.com/2008/10/18/jutaan-rakyat-irak-tolak-proposal-kesepakatan-keamanan-as/#more-3176
Oktober 26, 2008 at 3:38 am
Hi.
I’m from Canada. Here my new site:
http://bunnyhoper.narod.ru/
Oktober 28, 2008 at 7:20 am
saudara ressay memang bodoh,seperti keledai yang tak tau jalan(memang yang namanya keledai ga ada yg bs mikir),saudara2 ikhwan kita telah menjelaskan setidaknya siapa syiah,tapi memang bodoh tetap saja bodoh terkecuali ia mw membuka mata siapakah hakikat syiah,saya rasa 1 jawaban buat ressay,anda telah di butakan hatinya oleh Alloh makanya lebih percaya pada klinik dan tkahayul,dasar dukun!
Desember 4, 2008 at 4:18 pm
@pembunuh syiah
@promujahideen
Saya yang sunni saja malu dengan antum berdua.
Februari 14, 2009 at 11:37 am
to priyodjatmiko: kenapa antum malu??
Februari 28, 2009 at 8:07 am
Assalamu’alaikum,
Kita sudah sama-sama tahu kalau kaum Syi’ah itu adalah kelompok yang sesat karena bertentangan dengan pemahaman Ahlussunnah-walJama’ah. Tapi yang menjadi problem saat ini adalah adanya amalan syi’ah yang banyak diadopsi oleh orang yang mengaku Ahlussunnah baik itu dalam ibadah, mu’asyarah, Assiyasah dll. Bentuk jenis perayaan-perayaan yang tidak dikenal dalam ajaran Islam tapi banyak dilakukan oleh ummat Islam dengan alasan rasio bukan dalil, berkumpul antara wanita dan pria bukan mahrah tanpa hijab hanya karena alasan demi PARTAI & DEMI MERAIH SUARA (Waiyyadjubillah)’ Lelaki menyerupai pakaian orang kafir dengan memakai dasi, celana menjulur (isbal) dan potong janggut untuk mengikuti jaman dan juga boleh berkoalisi dengan kelompok sesat bahkan kafir demi meraih suara, melakukan DEMONSTRASI (perempuan dan lelaki campur) dan lain-lain. Itu semua BATHIL tidak ada dikenal dalam ajaran Islam yang murni baik itu diZaman Rasul maupun Shahabat. Ini harus difikirkan baik-baik dengan kembali kepada DALIL. Ikhlas kita ikut kepada Al-Qur’an dan Sunnah dan jangan taqlik kepada pemimpin kelompok dan mengikut hawa NAFSU.
Maret 12, 2009 at 2:21 pm
hmm..dunia memang aneh…