Soal:
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Di dalam sebuah pengajian, seorang penceramah mengatakan bahwa pria dan wanita yang bukan muhrim dibolehkan bersentuhan kulit dan tidak membatalkan wudlu, yang membatalkan adalah bersentuhan dalam arti hubungan suami isteri. Beliau mencontohkan dalam ibadah haji orang selalu bersentuhan tetapi tidak membatalkan ibadahnya. Mohon penjelasan, karena pendapat ini berbeda dengan pendapat yang selama ini saya yakini Trims, wassalamu’alaikum.
Jawab:
Wa’alaikumus salam
Sebelum menjawab pertanyaan, kami perlu meluruskan pernyataan di dalam pertanyaan yang membingungkan. Pernyataan tersebut adalah, “bersentuhan pria-wanita yang bukan mahram itu diperbolehkan”.
Bersentuhan kulit dengan non-mahram itu hukumnya haram. Kulit mana saja, baik kulit muka ataupun kulit tangan. Maka bersalaman wanita dan pria yang bukan mahram itu hukumnya haram. Dalil haramnya bersentuhan itu, di antaranya adalah hadis;
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Kepala salah seorang di antaramu itu ditusuk dengan dengan paku besi lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR Thabrani dengan sanad shahih)
Tetapi kalau pria-wanita itu telah menjadi suami isteri maka boleh bersentuhan.
Kebolehan bersentuhan di dalam pertanyaan tersebut di atas kami yakin bukan berarti penanya mempersoalkan kehalalan bersentuhan, tetapi kebolehan tersebut dalam arti tidak membatalkan wudlu.
Dalam masalah inilah para ulama berbeda pendapat. Perbedaan itu diawali dari perbedaan dalam memahami kata lamastum di dalam firman Allah,
أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
“Atau kalian menyentuh wanita” (an-Nisa’:43)
Ali bin Abi Thlaib, Ibnu Abbas, dan al-Hasan mengatakan bahwa maksud kata menyentuh di sini adalah hubungan suami isteri. Pendapat inilah yang diambil oleh Imam Hanafi. Tetapi Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar mengartikan sentuhan di sini dengan sentuhan kulit. Pendapat ini diikuti oleh Imam asy-Syafi’i.
Berpijak pada perbedaan pendapat tersebut para ulama’ berbeda pendapat dalam mamandang apakah bersentuhan kulit membatalkan wudlu atau tidak..
Pendapat-pendapat para ulama’ tentang masalah ini bisa dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu.
1. Imam Hanafi dengan tegas mengatakan bersentuhan kulit saja tidak membatalkan wudlu.
2. Imam Malik mengatakan bahwa jika persentuhan itu tanpa syahwat tidak membatalkan wudlu, tetapi kalau disertai dengan syahwat membatalkan wudlu.
3. Imam Syafi’i mengatakan bahwa bersentuhan kulit membatalkan wudlu.
Untuk menguatkan pendapat ini Imam Hanafi mengemukakan dalil, bahwa kata bersentuhan di dalam ayat tersebut di atas harus dikaitkan dengan firman Allah
إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ
“Dan jika kamu mentalak mereka sebelum kalian menyentuh mereka” (al-Baqarah:236.)
Menyentuh di dalam ayat tersebut tidak mungkin difahami hanya bersentuhan kulit. Bahkan para ahli fiqih sepakat ayat terakhir ini menjelaskan tentang wanita yang dicerai sebelum dikumpuli.
Selain dengan alasan tersebut, pendapat Imam Hanafi juga didukung dengan hadis
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ
Dari Aisyah bahwa beliau saw pernah mencium salah seorang isterinya lalu melakukan shalat tanpa berwudlu terlebih dahulu. (HR at-Tirmidzi)
Sementara Imam Syafi’i berpendapat bahwa dalam memaknai ayat yang didahulukan adalah makna hakiki, bukan makna majazi. Sedangkan mengartikan bersentuhan dengan hubungan suami isteri termasuk memaknai ayat dengan makna majaz.
Imam Malik agaknya berusaha mengakomodir hadis di samping pemahaman ayat dengan makna dhahir seperti yang dilakukan oleh Imam asy-Syafi’i.
Menurut kami, pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan bersentuhan kulit itu tidak membatalkan wudlu, sebab pendapat tersebut tidak rumit dan tidak pula membuat pertentangan istilah antara al-Qur’an dan hadis. Sedangkan pendapat Imam asy-Syafi’i tentang memaknai dhahir kata al-Qur’an tidak sesuai dengan ayat lain maupun hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Allahu a’lam
April 19, 2009 at 10:22 pm
Masalah ini adalah perkara khilafiyah sejak lama, dan para imam kau muslimin terbagi atas tiga kelompok, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah, sebagai berikut:
أَمَّا نَقْضُ الْوُضُوءِ بِلَمْسِ النِّسَاءِ فَلِلْفُقَهَاءِ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ : طَرَفَانِ وَوَسَطٌ . أَضْعَفُهَا : أَنَّهُ يَنْقُضُ اللَّمْسُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِشَهْوَةِ إذَا كَانَ الْمَلْمُوسُ مَظِنَّةً لِلشَّهْوَةِ . وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ ؛ تَمَسُّكًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى : { أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ } وَفِي الْقِرَاءَةِ الْأُخْرَى : أَوْ لَمَسْتُمْ . الْقَوْلُ الثَّانِي : أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ بِحَالِ وَإِنْ كَانَ لِشَهْوَةِ . كَقَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ وَغَيْرِهِ . وَكِلَا الْقَوْلَيْنِ يَذْكُرُ رِوَايَةً عَنْ أَحْمَد ؛ لَكِنَّ ظَاهِرَ مَذْهَبِهِ كَمَذْهَبِ مَالِكٍ وَالْفُقَهَاءِ السَّبْعَةِ : أَنَّ اللَّمْسَ إنْ كَانَ لِشَهْوَةِ نَقَضَ وَإِلَّا فَلَا .
“Ada pun batalnya wadhu karena menyentuh wanita, para fuqaha (ahli fiqih) terbagi atas tiga pendapat, dua pendapat ekstrim, yang satu pertengahan (moderat).
Pertama. Pendapat yang mengatakan bahwa menyentuh wanita adalah batal baik bersyahwat atau tidak. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i. Berdalil dengan ayat: “Atau kalian menyentuh perempuan.”
Kedua. Pendapat yang mengatakan bersentuhan dengan wanita adalah tidak membatalkan wudhu, apa pun kondisinya, walau pun bersyahwat. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan lainnya.[1]
Ketiga.Pendapat yang mengatakan bahwa bersentuhan dengan wanita adalah tidak membatalkan wudhu jika tanpa syahwat, jika bersyahwat maka batal. Inilah pendapat Imam Malik dan tujuh ahli fiqih di Madinah.
Sedangkan Imam Ahmad ada dua pendapat darinya, tetapi yang tenar dari pendapat Imam Ahmad adalah sebagaimana pendapat Imam Malik (pendapat yang ketiga).[2]
Kita bahas satu persatu.
Pertama. Pendapat Yang Menyatakan Bahwa Menyentuh Isteri Membatalkan Wudhu
Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu dan pengikutnya. Ada juga menyebutkan bahwa wajib wudhu jika karena mencium, inilah pandangan Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Az Zuhri, Atha’, Asy Sya’bi, Al Awza’i, dan lainnya. Alasan mereka adalah ayat dalam Al Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Maidah (5):6)
Ayat ini, khususnya kalimat Lamastum an nisaa’ (kalian menyentuh perempuan)[3] dijadikan alasan batalnya wudhu orang yang menyentuh isterinya, walau dengan tangan. Berkata Imam Ibnu Jarir Rahimahullah:
وقال آخرون: عنى الله بذلك كلَّ لمسٍ، بيدٍ كان أو بغيرها من أعضاء جسد الإنسان وأوجبوا الوضوءَ على من مسَّ بشيء من جسده شيئًا من جسدها مفضيًا إليه.
“Berkatalah ulama lainnya: makna ayat Allah tersebut adalah semua bentuk sentuhan, baik dengan tangan atau selainnya, dari anggota jasad manusia. Maka, wajiblah berwudhu bagi siapa saja yang anggoa tubuhnya menyentuh isterinya.”[4]
Inilah tafsir dari Ibnu Mas’ud, Abu Ubaidah, Ibnu Umar, Said bin Jubeir, ‘Atha, Ibnu ‘Aun, Hammad.[5]
Kedua. Pendapat Yang Mengatakan Tidak Batalnya Menyentuh Isteri secara mutlak, walau bersyahwat
Inilah pendapat Imam Abu Hanifah dan selainnya. Alasan mereka adalah maksud kalimat Lamastum an nisaa’ (kalian menyentuh perempuan) bukanlah sekedar menyentuh, tetapi berjima’ (setubuh). Demikianah tafsir dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu –imamnya para imam ahli tafsir- bahwa itu maksudnya berjima’ (setubuh) bukan sekedar menyentuh atau mencium.
Imam Abu Ja’far bin Ath Thabari Rahimahullah mengatakan:
عن قتادة عن عكرمة وسعيد بن جبير وعطاء بن أبي رباح وعبيد بن عمير: اختلفوا في الملامسة، فقال سعيد بن جبير وعطاء: الملامسة ما دون الجماع. وقال عبيد: هو النكاح. فخرج عليهم ابن عباس فسألوه، فقال: أخطأ الموليَان وأصَاب العربيّ، الملامسة النكاح، ولكن الله يكني ويعفّ.
Dari Qatadah, dari ‘Ikrimah, Said bin Jubeir, ‘Atha bin Abi Rabbah, dan ‘Ubaid bin ‘Amir: mereka berbeda pendapat tentang makna Al Mulamasah (bersentuhan). Said bin Jubeir dan ‘Atha mengatakan: bersentuhan tanpa jima’. ‘Ubaid mengatakan: itu adalah An Nikah (bersetubuh). Lalu Ibnu Abbas keluar menuju mereka, maka manusia bertanya kepadanya, beliau menjawab: “Dua orang Mawali (maksudnya Said bin Juberi dan ‘Atha) itu telah salah, dan orang ‘Arab (maksudnya ‘Ubaid) itulah yang benar, Al Mulamasah adalah bersetubuh. Tetapi Allah membuat kiasan (Al Kinayah) untuk menjaga adab kesopanan.”[6]
Ini juga tafsir dari Ali bin Abi Thalib, Al Hasan, dan Mujahid.[7]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Majmu’ Fatawa-nya, juga menguatkan pendapat bahwa makna ‘bersentuhan’ dalam ayat tersebut adalah bersetubuh.
Hal ini diperkuat lagi oleh ayat yang menyebutkan teks massa (menyentuh) dengan makna berjima’ (setubuh), silahkan perhatikan Al Baqarah 237 berikut:
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ
“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka..” (QS. Al Baqarah (2): 237)
Tidak ada perbedaan pendapat dalam ayat ini, bahwa maksud an tamasuuhunna bukanlah “menyentuh mereka”, tetapi “menyetubuhi mereka.”
Ada pun ayat yang paling jelas adalah sebagai berikut, tentang hamilnya Maryam:
قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
“Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam (19): 20)
Ayat ini jelas sekali menyebut menyentuh, tetapi apakah ada sentuhan yang bisa membuat hamil? tidak! Jadi, makna menyentuh di sini adalah bersetubuh, dengan kata lain, Maryam bertanya, bagaimana bisa dirinya hamil sementara dia sama sekali belum pernah bersetubuh dengan laki-laki. Hanya saja, Al Quran menggunakan kata kiasan (kinayah) menyentuh, dan ini menunjukkan betapa suci dan sopannya Al Quran dalam memilih kata-kata.
Selanjutnya, kelompok ini juga berdalil dari hadits sebagai berikut:
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya Nabi Shalalllahu ‘Alaihi wa Sallam mencium salah seorang isterinya, lalu dia keluar untuk shalat dan tanpa mengulangi wudhunya.”[8]
Hadits dishahihkan Syaikh Al Albani Rahimahullah.[9] Hadits ini dijadikan dalil bahwa menyentuh isteri walau pun bersyahwat tidaklah membatalkan wudhu, sebab biasanya mencium akan dibarengi oleh syahwat, demikianlah pandangan Imam Abu Hanifah dan Syaikh Al Albani.
Ketiga. Pendapat Yang Mengatakan Tidak Batalnya Menyentuh Isteri, jika tidak Bersyahwat
Inilah pandangan yang lebih kuat, dan pertengahan di antara dua pendapat ekstrim di atas. Menyentuh atau bersentuhan dengan isteri tidaklah membatalkan wudhu, dengan syarat, tanpa di barengi syahwat. Inilah pandangan Imam Malik, Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur darinya, Hammad, An Nakha’i, Asy Sya’bi, Ats Tsauri, Ishaq, dan Al Hakam.
Juga Imam Ibnu Taimiyah, Syaikh Yusuf Al Qaradhawy, para ulama di lembaga fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia, dan lain-lain.
Bagi mereka, mencium isteri belum tentu bersyahwat, dan faktanya memang demikian bukan ? Tidak selalu mencium isteri karena faktor syahwat, seperti mencium ketika ingin berangkat kerja, atau ketika bergurau, itu semua menunjukkan ciuman kasih sayang, yang tidak terlintas didasari syahwat.
Mereka memiliki dalil selain dalil kelompok kedua, yakni beberapa hadits sebagai berikut:
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:
كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
“Aku tidur di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kedua kakiku ada di arah kiblatnya. Ktika, beliau sujud dirabanya aku dan diangkatnya kakiku, jika beliau berdiri aku kembali membentangkan kakiku.” Aisyah mengatakan: “Saat itu rumah-rumah tidak memiliki penerang.”[10]
Imam An Nasai’i memasukkan hadits ini dalam Bab Tarku Wudhu Min Massi Ar Rajul Imra’atahu Min Ghairi Syahwah (Meninggalkan wudhu bagi laki-laki yang menyentuh perempuan dengan tanpa bersyahwat).
Imam Abu Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahullah mengomentari hadits di atas:
أَنَّ اللَّمْسَ لِغَيْرِ اللَّذَّةِ لَا يَنْقُضُ الطَّهَارَةَ
“Sesungguhnya menyentuh (wanita) dengan tanpa menikmatinya, tidaklah membatalkan thaharah (wudhu).”[11]
Sementara para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah Lil Buhuts Al ‘ilmiah wal Ifta (Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) di Saudi Arabia berfatwa, tidak batalnya wudhu karena menyentuh wanita. Demikian fatwanya:
المقصود بالملامسة في آية النساء المخالطة الخاصة، فقد فسره ابن عباس بالجماع، وروي عن علي وأبي بن كعب ومجاهد وطاوس والحسن وعبيد بن عمير وسعيد بن جبير والشعبي وقتادة ومقاتل بن حيان نحو ذلك. وقال ابن مسعود رضي الله عنه وجماعة: (إن المراد بذلك نفس المسيس لأي عضو من أعضائها)، ورأوا ذلك ناقضا للوضوء. والقول الأول أصح لما ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قبَّل بعض نسائه ثم صلى ولم يتوضأ؛ ولأن الأصل سلامة الطهارة فلا تنقض إلا بناقض معلوم بالأدلة الشرعية.
“Yang dimaksud dengan Al Mulamasah (menyentuh) dalam ayat An Nisa tersebut adalah percampuran khusus. Ibnu ‘Abbas telah menafsirkan hal itu dengan jima’ (setubuh). Demikian juga tafsir dari Ali, Ubai bin Ka’ab, Thawus, Al Hasan, Mujahid, Ubaid bin ‘Amir, Said bin Jubeir, Asy Sya’bi, Qatadah, Muqatil, dan lainnya. Berkata Ibnu Mas’ud dan lainnya, maksud ayat tersebut adalah menyentuh itu sendiri yang dilakukan anggota badan mana saja, dan mereka berpendapat hal itu membatalkan wudhu. Namun, yang benar adalah pendapat yang pertama. Lantaran telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau mencium sebagian isterinya lalu shalat dan tanpa berwudhu lagi. Pada dasarnya, terjaganya kesucian itu tidaklah membuatnya batal kecuali dengan pembatal-pembatal yang sudah diketahui oleh dalil-dalil syariah.”[12]
Terakhir, kami sampaikan pandangan jitu dari Imam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan makna ayat Lamastumun nisaa’ (kalian menyentuh perempuan) sebagai berikut:
وَالْآيَةُ إنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهَا الْجِمَاعَ فَلَا كَلَامَ وَإِنْ كَانَ أُرِيدَ بِهَا مَا هُوَ أَعَمُّ مِنْ الْجِمَاعِ فَيُقَالُ : حَيْثُ ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ مَسَّ النِّسَاءِ وَمُبَاشَرَتَهُنَّ وَنَحْوَ ذَلِكَ : فَلَا يُرِيدُ بِهِ إلَّا مَا كَانَ عَلَى وَجْهِ الشَّهْوَةِ وَاللَّذَّةِ وَأَمَّا اللَّمْسُ الْعَارِي عَنْ ذَلِكَ فَلَا يُعَلِّقُ اللَّهُ بِهِ حُكْمًا مِنْ الْأَحْكَامِ أَصْلًا
“Ayat tersebut, jika maknanya adalah jima’ (setubuh), maka diskusi ini selesai (karena sudah jelas, pen). Tetapi jika maknanya lebih umum dari jima’ , maka dikatakan: “Ketika Allah Ta’ala menyebutkan dalam kitabNya kata ‘menyentuh perempuan’ dan berhubungan badan dengan mereka, dan yang semisalnya. Maka maksudnya itu hanyalah menyentuh dengan bersyahwat dan menikmatinya. Sedangkan jika menyentuh tanpa dibarengi syahwat, maka tidak lagi hukum Allah yang berhubungan dengannya (maksudnya tidak ada masalah, pen).”[13]
Demikian. Wallahu A’lam
[1] Ini juga menjadi pendapat Syaikh Al Albani Rahimahullah sebagaimanan tertera daalm As Silsilah Adh Dhaifah, bahwa beliau mengatakan tidak batal menyentuh isteri walau bersyahwat.
[2] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 4, Hal. 444. Al Maktabah Asy Syamilah
[3] Dalam bahasa Arab, menyentuh adalah massa – yamassu – massan – massiisan. Atau juga lamasa – yalmisu- yalmusu- lamsan. Keduany (massa dan lamasa) artinya sama yaitu menjamah atau menyentuh.
[4] Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, Juz. 8, Hal. 392. Al Maktabah Asy Syamilah
[5] Ibid, Juz. 8, Hal. 393-395. Al Maktabah Asy Syamilah
[6] Ibid , Juz. 8, Hal. 360. Al Maktabah Asy Syamilah
[7] Ibid, Juz. 8, Hal. 392. Al Maktabah Asy Syamilah
[8] HR. Abu Daud, Ath Thaharah Bab Al Wudhu Minal Qublah, Juz. 1, Hal. 222, No. 153. At Tirmidzi, Kitab Ath Thaharah ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a fi Tarkil Wudhu Minal Qublah, Juz. 1, Hal. 143, No. 79. Ibnu Majah, Kitab Ath Thaharah wa Sunanuha Bab Al Wudhu’ Minal Qublah, Juz. 2, Hal. 113, No. 495.
[9] Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Juz. 1, Hal. 257. Al Maktabah Asy Syamilah
[10] HR. Bukhari, Kitab Ash Shalah Bab Ash Shalah ‘Alal Firasy, Juz. 2, Hal. 94, No. 369. Muslim, Kitab Ash Shalah Bab Al I’tiradh Baina Yadai Al Mushali, Juz. 3, Hal. 90, No. 796. An Nasa’i, Kitab Ath Thaharah Bab Tarki Wudhu Min Massi Ar Rajul Imara’atahu Min Ghairi Syahwah, Juz. 1, Hal. 290, No. 168. Malik, Juz. 1, Hal. 348, No. 238. Ahmad, Juz. 51, Hal. 150, No. 23993. Al Maktabah Asy Syamilah
[11] Imam Abu Sulaiman bin Khalaf Al Baji, Al Muntaqa’ Syarh Al Muwaththa’, Juz. 1, Hal. 271. Al Maktabah Asy Syamilah
[12] Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al Ilmiah wal Ifta, Juz. 7, Hal. 254, No fatwa. 4497. Al Maktabah Asy Syamilah
[13] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 4, Hal. 445. Al Maktabah Asy Syamilah