Setelah Allah swt menurunkan perintah Nya kepada Rasulullah saw agar melakukan dakwah Jahriyah (terang terangan) dengan firmanNya:

و أنذر عشيرتك الأقربين

Para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin benar benar gerah dengan pergerakan dakwah yang kemajuannya sangat pesat ini. Berbagai usaha mereka lakukan untuk menghalangi laju perkembangan dakwaah Rasulullah saw. Dari mulai ancaman , intimidasi fisik hingga lobi lobi diplomasi mereka lakukan melalui Abu Thalib paman Nabi saw. Yang dengan tegar terus membela dan melindungi beliau dengan jaminan dirinya.

Antara lobi yang di lakukan para pembesar Musyrikin yang notabene masih anggota keluarga dekat Rasulullah saw. Sendiri adalah mendatangi Abu thalib dengan memberikan tawaran istimewa. Delegasi lobi yang di pimpin kedua paman Rasulullah saw. Abu jahal dan Abu lahab ini memberikan tawaran kepada Rasulullah saw. Memlalui pujukan sang paman (Abu thalib). Delegasi ini menawarkan kepada Rasul bahwa jika dia sudi mengehntikan kegiatan dakwahnya, maka para pembesar Quraisy sepakat untuk memberikan keistimewaan keistimewaan kepada Raasulullah saw. Beliau akan di jadikan sebagai pemimpin tertinggi kota Mekkah, beliau akan di jadikan sebagai orang terkaya di Mekkah, dan akan di nikahkan dengan wanita tercantik di sana serta beberapa keistimewaan yang lain. Mendengar tawaran ini Abu thalib pergi menemui Rasulullah saw. Dan menceritakan apa yang di tawarkan para pembesar itu kepadanya. Tapi Rasulullah saw. Tetap menolak keistimewaan keistimewaan itu dan memilih untuk terus melaksanakan perintah Allah sebagai penyampai risalahnya. Setelah Abu Thalib kembali dengan membawa jawaban dari Rasulullah, para pembesar musyrikin benar benar kehabisan akal, tetapi mereka tidak berhenti di situ, justru kali ini mereka teruskan dengan memberikan ancaman, baik kepada Rasulullah saw. Dan tekanan kepada Abu Thalib serta memberi somasi kepada Abu thalib bahwa jika Muhammad tidak menghentikan dakwahnya maka akan terjadi pertumpahan darah. Perkembangan ini bukan menjadikan Rasulullah saw. lemah, tetapi justeru memperkuat semangatnya untuk terus melaksanakan perintah suci ini, dan beliau Memberikan jawaban yang memberi makna yang sangat hebat yang seharusnya menjadi pelajaran dan rujukan bagi seluruh umatnya, beliau mengatakan: “Demi Allah walalupun mereka akan meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku demi untuk aku menghentikan perintah agama ini, sekali kali tidak akan aku tinggalkan.”

Kisah di atas benar benar memberikan pelajaran penting bagi umat Islam zaman ini . Yang pertama adalah bahwa mendakwahkan kebenaran bukanlah pekerjaan gampang yang bisa di lakukan dengan pekerjaan sampingan, terlalu banyak gangguannya dan musuh yang bermunculan di jalan itu. Yang kedua bahwa merebut kekuasaan bukanlah jalan utama mencapai kemenangan dalam dakwah, jika tidak, lalu mengapa Rasulullah saw. menolak ketika di tawari menjadi pemimpin tertinggi di kota Mekkah? Jika difikir dengan akal, tentu tawaran ini sangat strategis, di mana jika beliau menerima tawaran ini lalu beliau menjadi penguasa Mekkah, maka seluruh penduduk Mekkah dengan mudah dapat di kuasai dan di pengaruhi dan kemudian hanya memerlukan waktu singkat beliau bisa membangun kekuatan dan membuat gerakan balik untuk langsung memproklamasikan tegaknya Negara Islam di Mekkah. Tetapi nampaknya jalan ini bukan menjadi pilihan beliau, beliau lebih memilih untuk terus berdakwah seperti biasa walau harus menghadapi berbagai gangguan.

Nampaknya ada sesuatu yang harus di garis bawahi dalam masalah ini, yaitu bahwa kebenaran yang sifatnya bersentuhan langsung dengan akidah tidak boleh di anggap enteng dan berkompromi walaupun secara taktis dan strategi di perkirakan akan mendapatkan jalan dakwah yang lebih mulus dan pintas. Karena resiko dalam masalah ini sangat besar. Kemusyrikan adalah lawan dari ketauhidan, dengan sekali saja Rasulullah saw. Menyepakati kemusyrikan maka serta merta hancur leburlah dakwah tauhid yang beliau bawa. Begitu pula dengan suatu sistem syirik yang sedang berkembang di zaman sekarang, sebuah agama baru yang di sebut demokrasi yang sama nilainya bahkan lebih jahat dari kemusyrikan yang ada di zaman Rasul saw. Jika di zaman itu rakyat menjadikan berhala sebagai tuhan, maka pada demokrasi rakyat menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan, hingga memiliki kekuatan penuh untuk menentukan hukum semau mereka, walau hukum itu jelas berlawanan dengan hukum Allah swt. Sebagai pemerintah dan pengatur alam semesta yang sebenarnya.

Berkompromi dengan demokrasi adalah kuburan bagi dakwah tauhid, sesuatu yang benar benar tidak dapat di cerna oleh fikiran ketika tauhid harus didirikan di atas pondasi syirik, padahal keduanya adalah seuatu yang sangat berlawanan dan tidak mungkin di satukan, jika ada tauhid maka harus hilanglah syirik, dan jika ada syirik maka rusaklah tauhid, lalu bagaimana mungkin kekuasaan syariat tauhid di bina di atas kekuatan sistem demokrasi yang syirik? Dari sinilah kita sangat meragukan wujudnya partai yang berbasis demokrasi untuk memperjuangkan syariat tauhid.

Tetapi di sisi lain, pada kisah yang sama dapat kita mengerti bahwa hal hal yang sifatnya tidak bersentuhan langsung dengan kesyirikan dapat beliau terima, hal ini terlihat dari kepercayaan beliau menerima jaminan keamanan dari Abu thalib yang masih sebagai orang musyrik, dan sistem seperti ini adalah sistem kebisaaan jahiliyah, tanpa harus mengakui kesyirikan yang melekat pada orang orang jahiliyah itu sendiri. Dan masih beberapa kisah lagi yang menceritakan bahwa Rasulullah menggunakan sistem jaminan ini untuk memasuki kota Mekkah yang masih di kuasai musuh.

Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa perjuangan menegakkan hukum tauhid memalui pemilu boleh boleh saja asal tanpa pengakuan terhadap kebenaran demokrasinya. Yakni siapapun yang menempuh jalan ini harus mentargetkan tegaknya hukum Allah dan bukan hukum rakyat, pekerjaan rumah pertama bagi mereka yang berhasil memasuki gedung MPR DPR adalah mengembalikan kewibawaan hukum Allah swt. Sulit memang untuk memilah isi hati antara pengakuan terhadap kebenaran demokrasi dan hanya sekadar menggunakan salah satu sistemnya yang tidak berlawanan dengan nilai tauhid. Maka hendaknya hal ini menjadi perhatian bagi semua, memilah antara kebenaran demokrasi dengan hanya sekadar menggunakan sebagian dari sistemnya yang masih tidak bersentuhan dengan tauhid.

Selamat berjuang sauadara saudaraku di partai….!!!